Mengenali Gerak Rasa.
Laku Wening Rasa merupakan laku kedua dalam proses menjernihkan diri. Menurut Kawruh Nawa Pambening, jika Laku Wening Cipta mengajarkan manusia untuk mengawasi pikiran, maka Laku Wening Rasa mengajarkan manusia untuk mengenali gerak perasaan yang muncul di dalam dirinya.
Rasa selalu hadir dalam kehidupan manusia. Senang, sedih, kecewa, marah, iri, takut, tersinggung, tenang, kasih, dan berbagai perasaan lainnya dapat muncul silih berganti. Kehadiran rasa merupakan bagian dari pengalaman manusia dan tidak perlu disangkal.
Namun, rasa tidak selalu menjadi dasar yang tepat untuk menentukan tindakan.
Seseorang yang sedang marah dapat merasa bahwa kemarahannya benar. Seseorang yang sedang iri dapat merasa bahwa orang lain memang tidak pantas mendapatkan sesuatu.
Seseorang yang sedang kecewa dapat menganggap bahwa tindakan tertentu merupakan satu-satunya jalan keluar.
Padahal, apa yang dirasakan belum tentu sama dengan kenyataan.
Karena itu, rasa perlu dikenali sebelum dituruti.
Apa yang Dimaksud dengan Mengenali Gerak Rasa?
Mengenali gerak rasa berarti menyadari perubahan perasaan yang sedang terjadi di dalam diri.
Ketika marah, seseorang mengetahui bahwa dirinya sedang marah. Ketika kecewa, ia menyadari bahwa kekecewaan sedang muncul.
Ketika iri mulai tumbuh, ia mampu mengenalinya tanpa harus segera mengikuti dorongan yang ditimbulkannya.
Kesadaran semacam ini memberikan jarak antara rasa dan tindakan.
Tanpa jarak tersebut, manusia mudah bergerak mengikuti dorongan perasaan.
Kemarahan dapat berubah menjadi perkataan kasar.
Kekecewaan dapat berubah menjadi tindakan yang merugikan.
Rasa iri dapat berubah menjadi keinginan menjatuhkan orang lain.
Sebaliknya, ketika rasa dapat diamati terlebih
dahulu, seseorang memiliki kesempatan untuk memilih tindakan dengan lebih baik.
Rasa Tidak Perlu Ditekan.
Menjernihkan rasa bukan berarti menekan atau memaksa perasaan agar hilang.
Kemarahannya ada, tetapi tidak perlu dipungkiri.
Kekecewaan muncul, tetapi tidak harus disembunyikan dari diri sendiri.
Rasa iri mungkin tumbuh, tetapi keberadaannya dapat diakui dan diperiksa.
Menekan rasa justru dapat membuat seseorang tidak mengenali keadaan dirinya sendiri. Perasaan yang tidak diakui dapat tetap memengaruhi cara berpikir dan bertindak, meskipun tidak terlihat dari luar.
Karena itu, Laku Wening Rasa mengajarkan sikap yang berbeda: rasa dilihat dengan jernih, bukan dituruti dan bukan pula dipungkiri.
Dengan melihat rasa sebagaimana adanya, seseorang mulai memahami apa yang sedang terjadi di dalam dirinya.
Mengenali Marah Sebelum Menjadi Tindakan.
Marah merupakan contoh yang mudah untuk memahami laku ini.
Ketika seseorang tersinggung, rasa marah dapat muncul dengan cepat. Tubuh mungkin menjadi tegang, suara meninggi, dan pikiran mulai mencari alasan untuk membenarkan kemarahan.
Jika kemarahan langsung diikuti, perkataan atau tindakan dapat keluar tanpa pertimbangan.
Namun, apabila seseorang mampu mengenali, “Aku sedang marah,” maka terdapat kesempatan untuk tidak langsung bertindak.
Ia dapat berhenti sejenak.
Ia dapat melihat apa yang sebenarnya memicu kemarahan tersebut.
Ia dapat mempertimbangkan apakah tanggapannya akan menyelesaikan persoalan atau justru memperbesarnya.
Dengan demikian, yang dijernihkan bukan keberadaan rasa marahnya, melainkan hubungan antara rasa marah dan tindakan yang mengikutinya.
Mengenali Iri Tanpa Membenarkannya.
Rasa iri juga perlu dikenali dengan jujur.
Ketika melihat orang lain memperoleh keberhasilan, kekayaan, penghargaan, atau kebahagiaan, mungkin muncul rasa tidak senang. Perasaan tersebut dapat membuat seseorang membandingkan dirinya dengan orang lain.
Jika tidak dikenali, rasa iri dapat berkembang menjadi kebiasaan meremehkan, mencari kekurangan, atau berharap orang lain mengalami kegagalan.
Dengan Laku Wening Rasa, seseorang tidak perlu berpura-pura bahwa rasa iri tidak ada.
Ia cukup mengenalinya:
“Di dalam diriku sedang tumbuh rasa iri.”
Pengakuan tersebut bukan pembenaran terhadap iri.
Sebaliknya, pengakuan menjadi awal untuk memahami dan mengendalikan dorongan yang muncul darinya.
Dari sana, seseorang dapat kembali melihat keadaan dengan lebih jernih.
Keberhasilan orang lain tidak harus dianggap sebagai ancaman terhadap dirinya.
Kekecewaan Bukan Dasar Mutlak untuk Bertindak.
Kekecewaan sering kali membuat manusia mengambil keputusan berdasarkan keadaan sesaat.
Ketika harapan tidak terpenuhi, seseorang dapat merasa terluka dan kemudian ingin membalas, menjauh, atau melakukan sesuatu yang sebenarnya tidak akan ia lakukan dalam keadaan tenang.
Laku Wening Rasa mengajarkan agar kekecewaan dikenali terlebih dahulu.
“Aku sedang kecewa.”
Kalimat sederhana ini penting karena memisahkan antara rasa dan keputusan.
Kekecewaan adalah keadaan yang sedang dialami. Keputusan adalah tindakan yang dipilih setelah mempertimbangkan keadaan.
Keduanya tidak harus berjalan bersamaan.
Seseorang boleh merasakan kecewa tanpa menjadikan kekecewaan sebagai dasar untuk menyakiti orang lain.
Memberi Sela antara Rasa dan Tindakan.
Salah satu manfaat terbesar Laku Wening Rasa adalah munculnya sela antara rasa dan tindakan.
Sela adalah ruang untuk berhenti sejenak sebelum mengikuti dorongan.
Ketika rasa muncul, manusia tidak lagi otomatis bertindak sesuai dorongan tersebut.
Marah tidak otomatis berarti harus membentak.
Kecewa tidak otomatis berarti harus membalas.
Iri tidak otomatis berarti harus menjatuhkan.
Takut tidak otomatis berarti harus melarikan diri.
Dengan adanya sela, manusia mempunyai kesempatan untuk memilih.
Inilah perbedaan antara sekadar mengalami rasa dan mampu mengelola hubungan dengan rasa.
Rasa yang Diamati Menjadi Lebih Mudah Dipahami.
Rasa sering kali berubah dengan cepat. Perasaan yang kuat pada pagi hari dapat berkurang beberapa jam kemudian. Kemarahan yang terasa sangat besar dapat menjadi lebih ringan setelah seseorang menenangkan diri.
Hal tersebut menunjukkan bahwa rasa bersifat bergerak dan berubah.
Karena itu, rasa tidak seharusnya selalu dianggap sebagai keadaan yang tetap.
Dengan mengamati perubahan rasa, seseorang dapat memahami bahwa apa yang dirasakan saat ini belum tentu akan dirasakan dengan cara yang sama nanti.
Pengamatan semacam ini membantu manusia tidak terlalu melekat pada perasaan sesaat.
Ia belajar memberi kesempatan kepada rasa untuk datang, dikenali, dan kemudian berubah secara alami.
Wening Rasa dalam Kehidupan Sehari-hari.
Laku Wening Rasa dapat dilakukan dalam keadaan sederhana.
Ketika seseorang membuat kita tersinggung, perhatikan rasa yang muncul sebelum menjawab.
Ketika melihat keberhasilan orang lain, perhatikan apakah muncul rasa iri atau justru kegembiraan.
Ketika harapan tidak terpenuhi, kenali rasa kecewa tanpa langsung mengambil keputusan.
Ketika menghadapi sesuatu yang menakutkan, perhatikan rasa takut tanpa membiarkannya menentukan seluruh tindakan.
Latihan ini tidak membutuhkan tempat khusus. Ia dapat dilakukan dalam kehidupan sehari-hari, karena justru dalam berbagai hubungan dan peristiwa itulah gerak rasa terlihat dengan jelas.
Semakin sering seseorang mengamati rasa, semakin mudah ia mengenali perubahan yang terjadi di dalam dirinya.
Tujuan Laku Wening Rasa.
Tujuan Laku Wening Rasa bukan membuat manusia menjadi pribadi tanpa emosi.
Manusia tetap dapat marah, sedih, kecewa, takut, senang, dan merasakan berbagai keadaan lainnya.
Yang berubah adalah cara manusia berhubungan dengan rasa tersebut. Ia tidak lagi mudah menjadi budak dorongan perasaan.
Rasa tetap dirasakan, tetapi tidak selalu dituruti.
Rasa tetap diakui, tetapi tidak dijadikan pembenaran bagi setiap tindakan.
Pada akhirnya, manusia memperoleh kemampuan untuk memberikan sela antara apa yang dirasakan dan apa yang dilakukan.
Di dalam sela itulah terdapat kesempatan untuk memilih tindakan yang lebih tepat.
Karena itu, Laku Wening Rasa: Mengenali Gerak Rasa merupakan bagian penting dari proses menjernihkan diri. Dengan mengenali rasa sebelum menuruti dorongannya, manusia belajar tidak mudah dikuasai oleh gejolak perasaan.
Rasa bukan musuh yang harus diperangi. Rasa adalah bagian dari pengalaman hidup yang perlu dikenali, dipahami, dan dilihat dengan jernih.
FAQ - Laku Wening Rasa.
1. Apa itu Laku Wening Rasa?
Laku Wening Rasa adalah latihan untuk mengenali dan mengamati gerak perasaan sebelum mengikuti dorongan yang muncul darinya.
2. Apakah rasa harus ditekan agar menjadi wening?
Tidak. Rasa tidak perlu ditekan atau dipungkiri. Rasa perlu dikenali dan dilihat dengan jernih agar tidak langsung menguasai tindakan.
3. Apa yang dilakukan ketika sedang marah?
Kenali terlebih dahulu bahwa diri sedang marah. Jangan langsung menjadikan kemarahan sebagai dasar untuk berbicara atau bertindak. Berikan sela untuk mempertimbangkan tindakan.
4. Apakah merasakan iri berarti seseorang memiliki sifat buruk?
Munculnya rasa iri dapat terjadi pada manusia. Yang penting adalah mampu mengenali rasa tersebut dan tidak membiarkannya berkembang menjadi tindakan yang merugikan orang lain.
5. Mengapa rasa perlu dikenali sebelum dituruti?
Karena rasa yang kuat dapat mendorong manusia bertindak secara spontan. Dengan mengenalinya terlebih dahulu, seseorang memiliki kesempatan untuk memilih tindakan secara lebih jernih.
6. Apa yang dimaksud dengan sela antara rasa dan tindakan?
Sela adalah ruang berhenti sejenak antara munculnya perasaan dan tindakan yang dilakukan. Sela memberikan kesempatan untuk tidak langsung mengikuti dorongan rasa.
7. Apakah Laku Wening Rasa berarti tidak boleh marah?
Tidak. Marah merupakan rasa yang dapat muncul secara alami. Yang perlu diperhatikan adalah agar kemarahan tidak secara otomatis menentukan perkataan atau tindakan.
8. Apa hasil dari Laku Wening Rasa?
Hasilnya adalah kemampuan mengenali perasaan dengan lebih jernih sehingga seseorang tidak mudah dikuasai oleh kemarahan, iri, kecewa, takut, atau dorongan perasaan lainnya.

Komentar
Posting Komentar
Tinggal komentar yang sopan jika anda suka dengan artikel ini, bantu kami menjaga kesehatan websiteblog kawruh sejati dan kawruh kasunyatan ini. Salam sahabat.