Mengawasi Cipta.
Laku Wening Cipta merupakan langkah pertama dalam proses menjernihkan cipta. Dalam Kawruh Nawa Pambening, laku ini mengajarkan manusia untuk memperhatikan setiap pikiran yang muncul sebelum pikiran tersebut berubah menjadi perkataan atau tindakan.
Dengan mengawasi cipta, seseorang belajar membedakan antara kenyataan dan apa yang hanya merupakan dugaan pribadi.
Cipta memiliki peranan penting dalam kehidupan manusia. Melalui cipta, manusia berpikir, mempertimbangkan sesuatu, mengingat pengalaman, membentuk dugaan, serta menentukan berbagai kemungkinan.
Namun, cipta tidak selalu menghasilkan pandangan yang benar. Pikiran dapat dipengaruhi oleh pengalaman masa lalu, rasa takut, keinginan, prasangka, maupun kepentingan pribadi.
Karena itu, kejernihan cipta tidak cukup dicapai dengan banyak berpikir. Cipta perlu diawasi agar manusia tidak langsung mempercayai setiap pikiran yang muncul di dalam dirinya.
Apa yang Dimaksud dengan Mengawasi Cipta?
Mengawasi cipta berarti memperhatikan apa yang sedang muncul dalam pikiran tanpa terburu-buru menganggapnya sebagai kenyataan.
Ketika seseorang melihat suatu peristiwa, misalnya, ia dapat langsung membuat kesimpulan berdasarkan apa yang ada di dalam pikirannya. Padahal, kesimpulan tersebut belum tentu sesuai dengan kenyataan.
Seseorang mungkin melihat orang lain tidak menyapanya, kemudian muncul pikiran bahwa orang tersebut sedang marah atau tidak menyukainya. Pikiran itu terasa masuk akal, tetapi belum tentu benar. Bisa saja orang tersebut sedang tidak melihat, sedang memikirkan sesuatu, atau memiliki persoalan lain.
Di sinilah pentingnya Laku Wening Cipta.
Pikiran tidak harus langsung ditolak, tetapi juga tidak perlu langsung dipercaya. Pikiran cukup diperhatikan dan diperiksa.
Pertanyaan sederhana dapat digunakan:
“Apakah ini nyata, atau hanya dugaanku?”
Pertanyaan tersebut membantu memberikan jarak antara kenyataan dan pikiran pribadi.
Tidak Semua Cipta Adalah Kenyataan.
Salah satu hal penting dalam Laku Wening Cipta adalah memahami bahwa tidak semua cipta menggambarkan kenyataan.
Ada cipta yang muncul karena seseorang benar-benar mengetahui sesuatu. Namun, ada pula cipta yang terbentuk dari dugaan, pengalaman masa lalu, rasa takut, keinginan, atau penilaian pribadi.
Misalnya, seseorang pernah mengalami kekecewaan dari orang tertentu. Ketika bertemu dengan orang lain yang memiliki perilaku serupa, pengalaman masa lalu dapat memengaruhi pikirannya. Ia mungkin segera menganggap orang baru tersebut juga akan mengecewakannya.
Padahal, kedua orang tersebut adalah pribadi yang berbeda.
Pengalaman dapat menjadi bahan pembelajaran, tetapi tidak seharusnya digunakan untuk menentukan kenyataan secara tergesa-gesa.
Demikian pula rasa takut. Seseorang yang takut kehilangan sesuatu dapat terus-menerus membayangkan kemungkinan buruk. Lama-kelamaan, bayangan tersebut terasa seperti kenyataan, meskipun sebenarnya belum terjadi. Karena itu, cipta perlu selalu diperiksa.
Belajar Tidak Tergesa-gesa Menilai.
Cipta yang belum jernih cenderung cepat memberikan penilaian. Baru melihat sedikit keadaan, seseorang sudah merasa mengetahui seluruh persoalan.
Kebiasaan seperti ini dapat menimbulkan salah pengertian. Laku Wening Cipta mengajarkan agar manusia tidak segera menjadikan kesan pertama sebagai kesimpulan akhir.
Apa yang terlihat perlu dipahami lebih dahulu. Apa yang terdengar perlu diperiksa.
Apa yang dipikirkan perlu dibedakan antara fakta dan dugaan.
Sikap ini bukan berarti manusia harus selalu ragu terhadap segala sesuatu. Tujuannya bukan membuat seseorang kehilangan keyakinan, melainkan membuat penilaian menjadi lebih tepat.
Manusia tetap dapat mengambil keputusan, tetapi keputusan tersebut sebaiknya tidak hanya berdasarkan cipta yang belum diperiksa.
Mengapa Pengalaman Masa Lalu Perlu Diwaspadai?
Pengalaman masa lalu memiliki manfaat besar karena memberikan pelajaran. Namun, pengalaman juga dapat menjadi sumber prasangka apabila digunakan secara tidak tepat.
Seseorang yang pernah mengalami kegagalan dapat menjadi terlalu takut mencoba kembali. Seseorang yang pernah dikhianati dapat menjadi sulit mempercayai orang lain. Seseorang yang pernah diperlakukan buruk dapat melihat ancaman bahkan ketika ancaman tersebut sebenarnya tidak ada.
Pengalaman memang membentuk cara manusia memandang kehidupan. Namun, pengalaman bukanlah ukuran mutlak bagi setiap keadaan baru.
Karena itu, Laku Wening Cipta tidak mengajarkan untuk melupakan pengalaman, tetapi menempatkannya secara tepat.
Pengalaman dijadikan pelajaran, bukan
dijadikan dasar untuk menghakimi segala sesuatu yang belum diketahui.
Membedakan Kenyataan dan Pangira-ira.
Salah satu latihan utama dalam laku ini adalah membedakan kenyataan dengan pangira-ira atau dugaan.
Kenyataan adalah sesuatu yang dapat diketahui berdasarkan keadaan yang benar-benar terjadi. Sementara itu, dugaan merupakan kesimpulan yang dibuat berdasarkan informasi yang belum lengkap.
Contohnya, seseorang melihat temannya berbicara dengan wajah serius. Kenyataannya adalah temannya sedang berbicara dengan wajah serius. Ketika kemudian muncul pikiran bahwa temannya sedang marah, hal tersebut sudah menjadi dugaan.
Perbedaannya tampak sederhana, tetapi sangat penting.
Jika manusia tidak mampu membedakan keduanya, dugaan dapat dianggap sebagai kenyataan. Dari situlah prasangka, salah paham, bahkan pertengkaran dapat bermula.
Dengan mengawasi cipta, seseorang belajar berkata dalam dirinya:
“Aku melihat keadaan ini, tetapi aku belum tentu mengetahui seluruh kenyataannya.”
Sikap seperti ini membuat cipta menjadi lebih tenang dan terbuka.
Mengurangi Kebiasaan Senang Menyalahkan.
Cipta yang tidak diawasi mudah mencari kesalahan pada orang lain. Ketika terjadi sesuatu yang tidak sesuai dengan keinginan, pikiran segera mencari siapa yang harus disalahkan.
Padahal, penyebab suatu keadaan sering kali jauh lebih kompleks daripada yang terlihat.
Dengan membiasakan diri bertanya apakah penilaian tersebut benar atau hanya dugaan, seseorang mulai mengurangi kebiasaan menyalahkan.
Ia belajar melihat persoalan dengan lebih jernih.
Bukan berarti kesalahan tidak boleh disebut sebagai kesalahan. Jika memang terdapat tindakan yang keliru, tindakan tersebut tetap perlu diakui. Namun, pengakuan terhadap kesalahan sebaiknya didasarkan pada kenyataan, bukan pada prasangka.
Inilah salah satu hasil penting dari Wening Cipta: kemampuan melihat sebelum menilai.
Laku Wening Cipta dalam Kehidupan Sehari-hari
Laku ini dapat dilakukan dalam berbagai keadaan sederhana.
Ketika menerima kabar, jangan langsung mempercayainya sebelum mengetahui kebenarannya.
Ketika mendengar perkataan seseorang, jangan segera menafsirkan maksudnya berdasarkan perasaan pribadi.
Ketika seseorang tidak memenuhi harapan, jangan langsung menganggap bahwa ia sengaja mengecewakan.
Ketika muncul rasa takut, perhatikan apakah ketakutan tersebut berasal dari keadaan nyata atau hanya kemungkinan yang dibayangkan.
Ketika muncul keinginan untuk menyalahkan seseorang, berhentilah sejenak dan periksa kembali dasar penilaian tersebut.
Latihan seperti ini dilakukan terus-menerus sampai menjadi kebiasaan.
Laku bukan sekadar pemahaman yang disimpan dalam pikiran. Kawruh menjadi nyata ketika dijalankan dalam kehidupan.
Cipta yang Wening Melahirkan Pandangan yang Lebih Jernih.
Tujuan akhir dari Laku Wening Cipta bukan membuat manusia berhenti berpikir. Sebaliknya, manusia justru belajar menggunakan cipta dengan lebih baik.
Cipta yang wening mampu membedakan antara apa yang diketahui dan apa yang belum diketahui. Ia tidak mudah dikuasai prasangka, ketakutan, keinginan, atau pengalaman masa lalu.
Semakin sering cipta diawasi, semakin seseorang mampu menunda penilaian sampai memiliki dasar yang cukup.
Dari sini tumbuh ketenangan dalam menghadapi kehidupan.
Manusia tidak lagi mudah bereaksi terhadap setiap pikiran yang muncul. Ia memberi kesempatan kepada dirinya untuk melihat, memahami, kemudian menentukan sikap.
Dengan demikian, Laku Wening Cipta: Ngawasake Cipta menjadi dasar penting bagi proses menjernihkan diri. Sebelum memperbaiki perkataan dan tindakan, manusia perlu terlebih dahulu belajar mengenali apa yang terjadi di dalam cipta.
Sebab, banyak perkataan dan tindakan bermula dari sana.
FAQ - Laku Wening Cipta.
1. Apa itu Laku Wening Cipta?
Laku Wening Cipta adalah latihan untuk mengawasi dan memperhatikan setiap cipta yang muncul sebelum berubah menjadi perkataan atau tindakan.
2. Apakah semua pikiran harus dipercaya?
Tidak. Pikiran dapat berasal dari pengetahuan, tetapi juga dapat muncul dari dugaan, rasa takut, pengalaman masa lalu, atau keinginan pribadi. Karena itu, pikiran perlu diperiksa terlebih dahulu.
3. Bagaimana cara membedakan kenyataan dan dugaan?
Periksa apakah sesuatu benar-benar diketahui atau hanya merupakan kesimpulan pribadi. Pertanyaan yang dapat digunakan adalah, “Apakah ini nyata, atau hanya dugaanku?”
4. Apakah mengawasi cipta berarti tidak boleh memiliki pendapat?
Tidak. Manusia tetap boleh memiliki pendapat. Yang perlu dihindari adalah menganggap pendapat pribadi sebagai kenyataan tanpa pemeriksaan.
5. Apa manfaat Laku Wening Cipta?
Laku ini membantu manusia mengurangi prasangka, tidak mudah salah memahami keadaan, tidak tergesa-gesa menilai, serta mengurangi kebiasaan menyalahkan orang lain berdasarkan dugaan.
6. Apakah pengalaman masa lalu harus dilupakan?
Tidak. Pengalaman tetap berguna sebagai pelajaran. Namun, pengalaman tidak seharusnya digunakan untuk menentukan bahwa semua keadaan baru pasti akan sama dengan keadaan yang pernah terjadi.
7. Kapan Laku Wening Cipta dilakukan?
Laku ini dapat dilakukan setiap saat, terutama ketika muncul pikiran yang kuat, rasa takut, prasangka, keinginan untuk menyalahkan, atau dorongan untuk segera mengambil keputusan.
8. Apa hubungan Laku Wening Cipta dengan kawruh?
Kawruh tidak cukup hanya diketahui. Kawruh perlu diwujudkan melalui laku. Dengan mengawasi cipta dalam kehidupan sehari-hari, pemahaman tentang kejernihan cipta mulai menjadi pengalaman nyata.

Komentar
Posting Komentar
Tinggal komentar yang sopan jika anda suka dengan artikel ini, bantu kami menjaga kesehatan websiteblog kawruh sejati dan kawruh kasunyatan ini. Salam sahabat.