Tidak Menipu Diri Sendiri.
Laku Jujur kepada Diri merupakan laku ketiga
dalam rangkaian pembeningan diri. Setelah belajar mengawasi cipta dan mengenali gerak rasa, Kawruh Nawa Pambening mengajarkan bahwa manusia perlu melangkah lebih jauh, dengan berani melihat dirinya sendiri secara jujur.
Pembeningan tidak akan tumbuh apabila seseorang selalu mencari alasan untuk membenarkan dirinya sendiri. Selama kesalahan selalu ditutupi, kekurangan selalu disangkal, dan tindakan yang keliru selalu diberi pembenaran, manusia akan sulit mengetahui keadaan dirinya yang sebenarnya.
Jujur kepada diri berarti berani melihat diri sebagaimana adanya.
Bukan sebagaimana yang ingin dilihat.
Bukan sebagaimana yang ingin ditampilkan kepada orang lain.
Dan bukan pula sebagaimana yang ingin dipercayai oleh diri sendiri.
Apa yang Dimaksud dengan Jujur kepada Diri?
Jujur kepada diri berarti berani mengakui apa yang benar-benar terjadi di dalam diri dan dalam tindakan yang telah dilakukan.
Jika melakukan kesalahan, berani mengakuinya sebagai kesalahan.
Jika memiliki kekurangan, berani melihat kekurangan tersebut.
Jika muncul iri, tidak berpura-pura bahwa diri sama sekali tidak iri.
Jika sedang marah, tidak mencari alasan untuk menyatakan bahwa kemarahan pasti benar.
Jika pernah menyakiti orang lain, berani mengakui bahwa tindakan tersebut memang dapat menimbulkan luka.
Kejujuran seperti ini bukan untuk
merendahkan diri. Tujuannya justru agar manusia dapat melihat apa yang perlu diperbaiki.
Seseorang tidak dapat memperbaiki sesuatu yang tidak mau diakuinya.
Mengapa Manusia Sering Menipu Diri?
Menipu diri tidak selalu dilakukan secara sadar. Sering kali manusia melakukannya melalui berbagai alasan yang terdengar masuk akal.
Ketika melakukan kesalahan, seseorang dapat berkata, “Aku melakukan itu karena dia memang pantas mendapatkannya.”
Ketika marah dan menyakiti orang lain, ia dapat berpikir, “Aku hanya mengatakan kenyataan.”
Ketika iri terhadap keberhasilan seseorang, ia mungkin mencari kekurangan orang tersebut agar dirinya merasa lebih baik.
Ketika gagal, ia dapat menyalahkan keadaan tanpa melihat bagian kesalahannya sendiri.
Semua itu dapat menjadi cara untuk mempertahankan gambaran bahwa dirinya selalu benar.
Padahal, selama kesalahan terus dibenarkan, tidak ada kesempatan untuk memperbaikinya.
Karena itu, Laku Jujur kepada Diri meminta keberanian yang sederhana tetapi tidak mudah: berhenti mencari alasan untuk membenarkan diri.
Mengakui Kesalahan Bukan Berarti Merendahkan Diri.
Ada anggapan bahwa mengakui kesalahan berarti menunjukkan kelemahan. Padahal, justru dibutuhkan keberanian untuk mengatakan, “Aku keliru.”
Orang yang selalu ingin terlihat benar akan kesulitan belajar. Setiap kesalahan dianggap sebagai kesalahan orang lain atau keadaan.
Sebaliknya, orang yang mampu mengakui kesalahan mempunyai kesempatan untuk memperbaiki tindakannya.
Mengakui kesalahan juga tidak berarti seseorang harus membenci dirinya sendiri.
Kesalahan adalah bagian dari pengalaman manusia. Yang penting adalah bagaimana seseorang menyikapi kesalahan tersebut.
Kesalahan yang diakui dapat menjadi pelajaran.
Kesalahan yang disangkal cenderung diulang.
Dengan demikian, kejujuran kepada diri merupakan pintu menuju perbaikan.
Berani Mengakui Kekurangan.
Tidak ada manusia yang sempurna. Setiap orang memiliki kekurangan, baik dalam cara berpikir, mengendalikan rasa, mengambil keputusan, maupun memperlakukan orang lain.
Namun, melihat kekurangan diri sendiri sering kali lebih sulit daripada melihat kekurangan orang lain.
Manusia mudah menemukan kesalahan orang lain, tetapi dapat menjadi sangat lunak ketika menilai dirinya sendiri.
Laku Jujur kepada Diri mengajarkan keseimbangan.
Jika mampu melihat kesalahan orang lain, manusia juga perlu memiliki keberanian untuk melihat kesalahannya sendiri.
Jika mampu menuntut orang lain berlaku baik, ia juga perlu bertanya apakah dirinya telah melakukan hal yang sama.
Kejujuran ini membuat penilaian terhadap diri menjadi lebih nyata.
Mengakui Iri, Marah, dan Keinginan Pribadi.
Kejujuran kepada diri juga berlaku terhadap keadaan rasa.
Ketika iri muncul, tidak perlu berpura-pura bahwa rasa tersebut tidak ada.
Ketika marah muncul, tidak perlu mencari pembenaran agar kemarahan terlihat selalu benar.
Ketika muncul keinginan untuk mendapatkan sesuatu dengan cara yang tidak tepat, seseorang perlu berani mengakuinya.
Mengakui keberadaan dorongan tersebut bukan berarti menyetujui atau melaksanakannya.
Justru dengan mengakuinya, seseorang dapat melihatnya dengan lebih jelas.
Jika seseorang berkata kepada dirinya, “Aku sedang iri,” ia mulai dapat mengamati rasa iri tersebut.
Jika ia berkata, “Aku sedang marah dan ingin membalas,” ia dapat menyadari dorongan yang sedang muncul.
Dari pengakuan itu, terbuka kesempatan untuk memilih tindakan yang lebih baik.
Melihat Dampak Tindakan kepada Orang Lain.
Jujur kepada diri tidak hanya berkaitan dengan apa yang dirasakan di dalam hati.
Kejujuran juga perlu diterapkan terhadap dampak tindakan kepada orang lain.
Manusia sering menilai tindakan berdasarkan niatnya sendiri.
“Aku tidak bermaksud menyakiti.”
“Aku hanya bercanda.”
“Aku hanya ingin membantu.”
Namun, niat yang baik tidak selalu menghasilkan akibat yang baik.
Karena itu, perlu keberanian untuk bertanya:
“Apakah tindakanku tadi mungkin membuat orang lain susah?”
Pertanyaan tersebut membantu seseorang melihat dari sudut pandang yang lebih luas.
Jika ternyata tindakannya menimbulkan luka, ia tidak perlu sibuk mencari alasan. Ia dapat mengakui dampaknya dan belajar memperbaikinya.
Membedakan Kebutuhan dan Keinginan.
Salah satu pertanyaan penting dalam Laku Jujur kepada Diri adalah:
“Tumindakku mau amarga kabutuhan apa amarga karepku?”
Dalam bahasa Indonesia, pertanyaan itu dapat dipahami sebagai:
“Tindakanku tadi dilakukan karena kebutuhan atau karena keinginanku?”
Pertanyaan ini membantu manusia memeriksa dorongan di balik tindakannya.
Tidak semua keinginan adalah kebutuhan.
Kadang manusia membenarkan suatu tindakan karena merasa sangat menginginkannya. Keinginan kemudian dianggap sebagai alasan yang cukup untuk melakukan apa saja.
Dengan memeriksa kembali dorongan tersebut, seseorang dapat melihat apakah tindakannya benar-benar diperlukan atau hanya mengikuti keinginan pribadi.
Pemeriksaan semacam ini membantu mengurangi tindakan yang didorong oleh kepentingan diri.
Menjadikan Kejujuran sebagai Cermin.
Kejujuran kepada diri dapat diibaratkan sebagai cermin.
Cermin tidak memilih mana yang ingin ditampilkan. Ia memperlihatkan keadaan sebagaimana adanya.
Demikian pula kejujuran kepada diri.
Jika terdapat kesalahan, kesalahan itu perlu dilihat.
Jika terdapat kekurangan, kekurangan perlu diakui.
Jika terdapat rasa iri, kemarahan, keserakahan, atau kepentingan pribadi, semuanya perlu dikenali.
Cermin tidak dimaksudkan untuk membuat seseorang membenci wajahnya. Cermin membantu seseorang mengetahui keadaan dirinya.
Demikian pula kejujuran. Tujuannya bukan menghukum diri, tetapi mengetahui apa yang perlu dibenahi.
Latihan Jujur kepada Diri Setiap Hari.
Laku ini dapat dilakukan melalui pemeriksaan sederhana setiap hari.
Sebelum mengakhiri hari, tanyakan kepada diri sendiri:
Apa kesalahanku hari ini?
Siapa yang mungkin telah kubuat susah?
Adakah perkataan atau tindakanku yang tidak perlu?
Apakah aku marah karena keadaan atau karena keinginanku tidak terpenuhi?
Apakah aku iri terhadap seseorang?
Apakah tindakanku tadi benar-benar karena kebutuhan atau hanya karena keinginanku?
Pertanyaan tersebut tidak perlu dijawab untuk mencari pembenaran.
Jawablah dengan sungguh-sungguh.
Jika jawabannya tidak menyenangkan, tetap terima sebagai kenyataan yang perlu diperbaiki.
Dengan dilakukan setiap hari, pemeriksaan ini dapat membentuk kebiasaan untuk tidak mudah menipu diri.
Kejujuran Menjadi Dasar Pembeningan.
Laku Jujur kepada Diri memiliki kedudukan penting dalam pembeningan karena manusia perlu mengetahui keadaan dirinya sebelum melakukan perubahan.
Mengawasi cipta membantu melihat pikiran.
Mengenali rasa membantu melihat gerak perasaan.
Jujur kepada diri membantu melihat keadaan diri tanpa ditutupi pembenaran.
Ketiganya saling berkaitan.
Ketika seseorang mampu melihat pikirannya, mengenali rasanya, dan jujur terhadap dirinya sendiri, ia mempunyai dasar yang lebih kuat untuk memperbaiki kehidupan.
Pembeningan bukan proses untuk menjadi manusia yang merasa dirinya sudah sempurna.
Pembeningan adalah keberanian untuk terus melihat apa yang masih perlu diperbaiki.
Karena itu, Laku Jujur kepada Diri: Tidak Menipu Diri mengajarkan bahwa perubahan tidak dimulai dari usaha terlihat baik di hadapan orang lain, tetapi dari keberanian melihat diri sendiri dengan jujur.
Jawaban yang sungguh-sungguh terhadap
pertanyaan tentang diri menjadi cermin untuk mengetahui keadaan diri.
Dari sanalah perbaikan dapat dimulai.
FAQ - Laku Jujur kepada Diri.
1. Apa itu Laku Jujur kepada Diri?
Laku Jujur kepada Diri adalah latihan untuk melihat dan mengakui keadaan diri sebagaimana adanya tanpa mencari alasan untuk selalu membenarkan diri sendiri.
2. Apakah mengakui kesalahan berarti merendahkan diri?
Tidak. Mengakui kesalahan merupakan bentuk keberanian untuk melihat kenyataan sehingga kesalahan tersebut dapat diperbaiki.
3. Apakah mengakui rasa iri berarti membenarkan rasa iri?
Tidak. Mengakui rasa iri berarti menyadari bahwa rasa tersebut sedang muncul. Kesadaran itu justru membantu seseorang agar tidak mengikuti dorongan iri dalam tindakan.
4. Mengapa manusia mudah mencari alasan untuk membenarkan diri?
Karena manusia cenderung ingin mempertahankan pandangan bahwa dirinya benar. Alasan dapat digunakan untuk menghindari rasa tidak nyaman ketika harus mengakui kesalahan.
5. Apa hubungan kejujuran kepada diri dengan pembeningan?
Pembeningan membutuhkan kemampuan melihat keadaan diri dengan nyata. Jika kesalahan, kekurangan, dan dorongan pribadi selalu disembunyikan atau dibenarkan, proses pembeningan akan sulit berkembang.
6. Apa yang perlu ditanyakan kepada diri setiap hari?
Beberapa pertanyaan yang dapat digunakan antara lain: Apa kesalahanku hari ini? Siapa yang mungkin telah kubuat susah? Mengapa aku melakukan tindakan tersebut? Apakah karena kebutuhan atau hanya karena keinginan?
7. Apakah semua tindakan yang memiliki niat baik pasti benar?
Tidak selalu. Niat baik tidak menjamin bahwa suatu tindakan tidak menimbulkan dampak buruk. Karena itu, seseorang perlu melihat pula akibat tindakannya terhadap orang lain.
8. Apa hasil dari Laku Jujur kepada Diri?
Hasilnya adalah kemampuan melihat diri dengan lebih apa adanya, mengakui kesalahan dan kekurangan, serta memiliki dasar yang lebih nyata untuk memperbaiki pikiran, rasa, dan tindakan.

Komentar
Posting Komentar
Tinggal komentar yang sopan jika anda suka dengan artikel ini, bantu kami menjaga kesehatan websiteblog kawruh sejati dan kawruh kasunyatan ini. Salam sahabat.