LAKU MENGENDALIKAN CIPTA

laku mengendalikan cipta
Tidak Menuruti Setiap Pikiran.

Laku Mengendalikan Cipta merupakan laku keempat dalam rangkaian pembeningan diri. Setelah belajar mengawasi cipta, mengenali gerak rasa, dan jujur kepada diri, langkah berikutnya menurut Kawruh Nawa Pambening adalah belajar mengendalikan cipta agar tidak setiap pikiran langsung diikuti.

Mengendalikan cipta bukan berarti menghentikan semua pikiran. Manusia tidak mungkin hidup tanpa berpikir. Cipta memiliki peranan penting untuk memahami keadaan, mempertimbangkan sesuatu, menyusun rencana, memecahkan persoalan, dan menentukan tindakan.

Yang perlu dilatih adalah kemampuan untuk tidak menjadi pengikut setiap pikiran yang muncul.

Pikiran dapat membawa manusia kepada masa lalu, membayangkan masa depan, menumbuhkan kekhawatiran, membuat dugaan, atau melahirkan keinginan yang belum tentu diperlukan. Jika semua itu langsung dipercaya dan diikuti, manusia dapat bertindak tanpa pemeriksaan yang cukup.

Karena itu, Laku Mengendalikan Cipta mengajarkan satu kebiasaan penting, yaitu  memberikan sela sebelum bertindak.

Mengendalikan Cipta Bukan Menghilangkan Pikiran.
Kesalahpahaman yang sering muncul adalah anggapan bahwa cipta yang jernih berarti pikiran harus dibuat kosong.

Bukan demikian.

Cipta tetap berpikir. Pikiran tetap muncul. Ingatan tetap datang. Pertimbangan tetap berlangsung.

Yang berubah adalah hubungan manusia dengan pikiran tersebut.

Ketika sebuah pikiran muncul, manusia tidak harus langsung mempercayainya. Ia dapat melihatnya terlebih dahulu, memeriksa asalnya, mempertimbangkan akibatnya, kemudian menentukan apakah pikiran tersebut perlu diikuti atau tidak.

Dengan demikian, mengendalikan cipta bukan berarti melawan pikiran, melainkan tidak menyerahkan diri kepada setiap pikiran yang muncul.

Cipta Dapat Membawa kepada Masa Lalu.
Pikiran sering membawa manusia kembali kepada kejadian yang sudah berlalu.

Seseorang dapat terus mengingat perkataan yang menyakitkan. Ia mengulang kembali peristiwa yang membuat kecewa. Ia membayangkan apa yang seharusnya dilakukan pada masa lalu.

Ingatan tersebut dapat berguna apabila dijadikan pelajaran. Namun, jika terus diikuti tanpa tujuan, pikiran tentang masa lalu dapat menjadi sumber penyesalan dan kemarahan yang berulang.

Karena itu, ketika pikiran kembali kepada masa lalu, seseorang dapat bertanya:
“Apakah ingatan ini sedang membantuku memahami sesuatu, atau hanya membuatku terus terikat pada kejadian yang sudah berlalu?”

Pertanyaan tersebut membantu cipta kembali kepada keadaan yang sedang dihadapi.

Cipta Juga Dapat Membawa kepada Masa Depan.
Selain masa lalu, cipta sering membawa manusia kepada masa depan.

Manusia membayangkan apa yang akan terjadi, membuat rencana, memperkirakan berbagai kemungkinan, dan memikirkan akibat dari suatu tindakan.

Hal tersebut diperlukan.

Namun, cipta juga dapat menciptakan kekhawatiran yang belum tentu memiliki dasar. Sesuatu yang belum terjadi dapat terasa seolah-olah sudah pasti terjadi.

Seseorang mungkin membayangkan kegagalan sebelum mencoba. Ia mungkin takut terhadap sesuatu yang sebenarnya belum terjadi. Ia mungkin membuat berbagai dugaan hingga pikirannya sendiri menjadi gelisah.

Mengendalikan cipta berarti mampu membedakan antara perencanaan dan kekhawatiran.

Perencanaan membantu manusia mempersiapkan diri.

Kekhawatiran yang tidak diperiksa hanya membuat cipta terus berputar pada kemungkinan yang belum tentu terjadi.

Tidak Semua Pikiran Perlu Dituruti.
Pikiran dapat muncul tanpa diminta.

Tiba-tiba muncul keinginan untuk membalas perkataan seseorang. Muncul dorongan untuk memberikan tanggapan. Muncul keinginan untuk menyampaikan sesuatu kepada orang lain.

Kemunculan pikiran bukan berarti manusia wajib melaksanakannya.

Inilah inti dari Laku Mengendalikan Cipta.

Munculnya pikiran adalah satu hal. Mengikuti pikiran adalah hal yang berbeda.

Ketika seseorang memahami perbedaan tersebut, ia memiliki ruang untuk memilih.

Ia dapat berkata dalam dirinya:
“Pikiran ini muncul, tetapi aku tidak harus langsung mengikutinya.”

Sikap sederhana tersebut dapat mencegah banyak tindakan yang dilakukan secara tergesa-gesa.

Memberikan Sela Sebelum Menjawab.
Salah satu latihan paling sederhana adalah memberikan sela sebelum menjawab perkataan yang menyakitkan.

Ketika seseorang mengatakan sesuatu yang membuat tersinggung, dorongan untuk membalas dapat muncul dengan cepat.

Jika langsung diikuti, perkataan dapat menjadi semakin tajam dan persoalan dapat semakin besar.

Namun, jika seseorang memilih diam beberapa saat, ia memiliki kesempatan untuk melihat keadaan dengan lebih jernih.

Diam sementara bukan berarti kalah.

Diam dapat menjadi kesempatan untuk memilih apakah perkataan perlu dijawab, bagaimana menjawabnya, dan apakah jawaban tersebut benar-benar diperlukan.

Sela yang sangat singkat dapat mengubah arah sebuah percakapan.

Memberikan Sela Sebelum Menyebarkan Pawarta.
Laku ini juga sangat penting ketika menerima informasi.

Seseorang dapat menerima berita atau cerita yang menarik perhatian. Dorongan pertama mungkin adalah segera membagikannya kepada orang lain.

Namun, informasi yang diterima belum tentu benar.

Jika langsung disebarkan, kesalahan yang kecil dapat berkembang menjadi persoalan yang lebih besar.

Karena itu, berikan sela.

Periksa terlebih dahulu sumbernya.

Tanyakan apakah informasi tersebut benar-
benar diketahui atau hanya merupakan kabar yang belum diperiksa.

Pertimbangkan pula apakah menyebarkannya memang diperlukan.

Dengan demikian, mengendalikan cipta tidak hanya berguna untuk ketenangan diri, tetapi juga dapat mencegah manusia menjadi sumber penyebaran informasi yang keliru.

Sela Kecil, Dampak Besar.
Salah satu gagasan penting dalam laku ini adalah bahwa sela kecil dapat menjadi pekerjaan besar bagi kejernihan cipta.

Sela tidak harus berlangsung lama.
Beberapa detik sebelum menjawab.
Beberapa saat sebelum mengirim pesan.
Beberapa menit sebelum mengambil keputusan.

Waktu yang singkat tersebut dapat memberikan kesempatan kepada cipta untuk memeriksa kembali dorongan yang muncul.

Apakah aku benar-benar perlu mengatakan ini?

Apakah aku mengetahui kenyataannya?

Apakah tindakanku akan menyelesaikan persoalan?

Apakah aku sedang bertindak karena kebutuhan atau hanya mengikuti dorongan sesaat?

Pertanyaan seperti itu dapat menghentikan tindakan yang seharusnya tidak perlu terjadi.

Mengendalikan Cipta dalam Kehidupan Sehari-hari.
Laku ini dapat dilatih melalui berbagai keadaan sederhana.

Ketika ingin membalas pesan dengan kata-kata keras, tunggu sebentar.

Ketika ingin menyebarkan berita, periksa dahulu.

Ketika muncul dugaan terhadap seseorang, jangan langsung menjadikannya kesimpulan.

Ketika teringat kesalahan masa lalu, ambil pelajarannya tanpa terus hidup di dalam kejadian tersebut.

Ketika membayangkan masa depan, bedakan antara persiapan yang diperlukan dan kekhawatiran yang tidak memiliki dasar.

Ketika muncul keinginan kuat, tanyakan apakah keinginan tersebut memang perlu diwujudkan.

Semua latihan tersebut memiliki tujuan yang sama: membentuk jarak antara munculnya pikiran dan tindakan.

Tidak Menjadi Kawula Pikiran.
Cipta seharusnya menjadi sarana bagi manusia untuk memahami dan menjalani kehidupan, bukan menjadi penguasa yang menentukan setiap tindakan.

Jika setiap pikiran langsung diikuti, manusia menjadi seperti hamba bagi pikirannya sendiri.

Pikiran berkata untuk membalas, ia membalas.

Pikiran berkata untuk menyalahkan, ia menyalahkan.

Pikiran berkata untuk menyebarkan sesuatu, ia akan menyebarkannya.

Pikiran berkata bahwa sesuatu pasti buruk, ia langsung mempercayainya.

Keadaan seperti itu menunjukkan bahwa manusia belum memiliki sela yang cukup antara cipta dan tindakan.

Laku Mengendalikan Cipta mengajarkan sebaliknya.

Pikiran boleh muncul, tetapi manusia tetap memiliki pilihan.

Hubungan dengan Wening Cipta.
Laku Mengendalikan Cipta memiliki hubungan erat dengan Laku Wening Cipta yang telah dibahas sebelumnya.

Pada Laku Wening Cipta, manusia belajar mengawasi setiap cipta yang muncul.

Pada Laku Mengendalikan Cipta, manusia melangkah lebih jauh dengan tidak menuruti setiap cipta yang muncul.

Dengan demikian, pengamatan berkembang menjadi pengendalian.

Manusia tidak hanya mengetahui bahwa pikirannya sedang marah, khawatir, berprasangka, atau ingin membalas, tetapi juga mampu memberikan sela sebelum mengikuti dorongan tersebut.

Di situlah pembeningan mulai menjadi laku nyata.

Tujuan Laku Mengendalikan Cipta.
Tujuan laku ini bukan menjadikan manusia pasif atau takut bertindak. Justru sebaliknya, manusia diharapkan mampu bertindak dengan lebih tepat karena tidak tergesa-gesa mengikuti setiap dorongan pikiran.

Cipta tetap digunakan untuk berpikir.
Pertimbangan tetap dilakukan.
Rencana tetap disusun.
Keputusan tetap diambil.

Namun, semuanya dilakukan setelah memberikan ruang untuk memeriksa.

Pada akhirnya, Laku Mengendalikan Cipta, yaitu Tidak Menuruti Setiap Pikiran mengajarkan bahwa manusia tidak harus mengikuti semua yang muncul di dalam pikirannya.

Ada pikiran yang perlu diperhatikan.
Ada yang perlu diperiksa.
Ada yang cukup dilewatkan.
Ada pula yang memang perlu diwujudkan.

Kemampuan membedakan semuanya membutuhkan latihan.

Dan latihan itu dapat dimulai dari hal yang sangat sederhana: berikan sela sebelum bertindak.

Sela kecil tersebut dapat menjadi awal dari cipta yang semakin wening.

FAQ - Laku Mengendalikan Cipta.
1. Apa itu Laku Mengendalikan Cipta?
Laku Mengendalikan Cipta adalah latihan untuk tidak langsung mengikuti setiap pikiran yang muncul, melainkan memberikan sela untuk mengamati, memeriksa, dan mempertimbangkannya sebelum bertindak.

2. Apakah mengendalikan cipta berarti harus menghentikan semua pikiran?
Tidak. Mengendalikan cipta bukan berarti menghilangkan pikiran. Manusia tetap berpikir, tetapi tidak harus mengikuti setiap pikiran yang muncul.

3. Mengapa perlu memberikan sela sebelum bertindak?
Sela memberikan kesempatan untuk memeriksa apakah dorongan yang muncul benar-benar perlu diikuti. Dengan demikian, tindakan tidak dilakukan hanya karena dorongan sesaat.

4. Apa contoh sederhana Laku Mengendalikan Cipta?
Contohnya adalah menunda membalas perkataan yang menyakitkan, memeriksa informasi sebelum menyebarkannya, dan tidak langsung mempercayai dugaan terhadap seseorang.

5. Apakah diam ketika marah berarti menghindari masalah?
Tidak. Diam sementara dapat menjadi kesempatan untuk menenangkan cipta dan memilih cara yang lebih tepat untuk menyelesaikan masalah.

6. Mengapa pikiran tentang masa lalu dan masa depan perlu diawasi?
Karena pikiran tentang masa lalu dapat menimbulkan penyesalan atau kemarahan yang berulang, sedangkan pikiran tentang masa depan dapat berubah menjadi kekhawatiran terhadap sesuatu yang belum terjadi.

7. Apa perbedaan Laku Wening Cipta dan Laku Mengendalikan Cipta?
Laku Wening Cipta menekankan mengawasi dan mengenali cipta, sedangkan Laku Mengendalikan Cipta menekankan tidak langsung menuruti cipta yang muncul.

8. Apa tujuan utama Laku Mengendalikan Cipta?
Tujuannya agar manusia memiliki sela antara pikiran dan tindakan sehingga tidak mudah bertindak secara tergesa-gesa berdasarkan dugaan, kekhawatiran, atau dorongan sesaat.

Komentar