Meninjau Perjalanan Diri
Laku Wawas Diri Setiap Hari merupakan laku kesembilan sekaligus penutup dalam rangkaian pembeningan diri, berdasarkan Kawruh Nawa Pambening. Setelah belajar mengawasi cipta, mengenali gerak rasa, jujur kepada diri, mengendalikan cipta, membersihkan rasa, menata karsa, mempertimbangkan keberadaan orang lain, dan mengurangi keinginan yang tidak perlu, manusia perlu terus melihat kembali perjalanan dirinya.
Pembeningan bukan pekerjaan yang selesai dalam satu hari.
Manusia dapat memiliki cipta yang jernih hari ini, tetapi kembali keruh pada hari berikutnya.
Rasa dapat menjadi tenteram, kemudian kembali dipenuhi kemarahan, iri, kecewa, atau kegelisahan. Karsa dapat tertata, tetapi dalam keadaan tertentu kembali terdorong oleh keinginan sesaat.
Karena itu, pembeningan perlu terus dijaga.
Laku Wawas Diri mengajarkan manusia menyediakan waktu setiap hari untuk melihat kembali apa yang telah dipikirkan, dirasakan, dan dilakukan.
Tujuannya bukan untuk menyalahkan diri.
Tujuannya adalah mengetahui apa yang masih perlu diperbaiki.
Apa yang Dimaksud dengan Wawas Diri?
Wawas diri berarti melihat kembali perjalanan diri dengan jujur dan tenang.
Setiap hari manusia mengalami berbagai peristiwa. Ada perkataan yang diucapkan, keputusan yang dibuat, rasa yang muncul, dan tindakan yang dilakukan.
Tidak semuanya berjalan dengan sempurna.
Ada yang sudah baik.
Ada yang masih kurang.
Ada pula yang mungkin perlu diperbaiki.
Wawas diri memberikan kesempatan untuk melihat semuanya tanpa tergesa-gesa membenarkan diri maupun menyalahkan diri.
Karena itu, wawas diri bukan kegiatan untuk mencari kesalahan sebanyak-banyaknya.
Wawas diri adalah cermin untuk mengetahui
keadaan diri.
Mengapa Perlu Dilakukan Setiap Hari?
Jika manusia tidak pernah melihat kembali tindakannya, kesalahan dapat menjadi kebiasaan.
Perkataan yang sebenarnya tidak perlu dapat terus diulang.
Kemarahan yang seharusnya dapat ditahan dapat kembali terjadi.
Kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain dapat semakin kuat.
Keinginan untuk dipuji dapat semakin menguasai.
Tanpa pemeriksaan, seseorang dapat merasa bahwa dirinya sudah berubah padahal kebiasaan lama masih berjalan.
Karena itu, pemeriksaan setiap hari menjadi penting.
Tidak perlu dilakukan dalam waktu lama.
Yang penting adalah dilakukan secara sungguh-sungguh dan terus-menerus.
Sedikit waktu untuk melihat diri setiap hari dapat memberikan pengaruh besar terhadap perjalanan pembeningan.
Tidak untuk Menyalahkan Diri.
Salah satu hal yang perlu dipahami adalah bahwa wawas diri berbeda dengan menyalahkan diri.
Menyalahkan diri cenderung membuat seseorang terus-menerus merasa buruk karena kesalahan yang dilakukan.
Wawas diri memiliki tujuan yang berbeda.
Jika terdapat kesalahan, kesalahan itu dilihat.
Jika ada kekurangan, kekurangan itu diakui.
Kemudian seseorang bertanya:
“Apa yang dapat kuperbaiki?”
Dengan demikian, perhatian tidak berhenti pada penyesalan.
Kesalahan digunakan sebagai bahan pembelajaran.
Seseorang tidak perlu berkata, “Aku memang selalu buruk.”
Lebih baik berkata:
“Tindakan ini keliru. Apa yang dapat kulakukan agar tidak mengulanginya?”
Perbedaan cara melihat tersebut sangat penting.
Melihat Apa yang Sudah Baik.
Wawas diri bukan hanya mencari kesalahan.
Seseorang juga perlu melihat apa yang sudah baik pada hari itu.
Tanyakan:
“Apa yang sudah kulakukan dengan baik hari ini?”
Mungkin hari ini berhasil menahan kemarahan.
Mungkin berhasil tidak membalas perkataan yang menyakitkan.
Mungkin berhasil mengakui kesalahan.
Mungkin berhasil membantu seseorang tanpa mengharapkan pujian.
Mungkin berhasil menolak keinginan yang sebenarnya tidak perlu.
Hal-hal tersebut juga perlu dikenali.
Dengan melihat perkembangan yang baik, manusia dapat mengetahui bahwa pembeningan benar-benar mulai menjadi laku dalam kehidupan.
Melihat Cipta yang Masih Keruh.
Setiap hari dapat muncul berbagai pikiran.
Ada pikiran yang jernih.
Ada dugaan.
Ada prasangka.
Ada kekhawatiran.
Ada keinginan untuk membenarkan diri.
Karena itu, dalam wawas diri dapat ditanyakan:
“Cipta apa yang perlu kubenahi hari ini?”
Mungkin seseorang terlalu cepat menilai orang lain.
Mungkin ia mempercayai informasi tanpa memeriksanya.
Mungkin pikirannya terlalu lama terikat pada
masa lalu.
Mungkin ia terlalu banyak memikirkan kemungkinan buruk yang belum terjadi.
Dengan mengenali keadaan tersebut, seseorang memiliki dasar untuk memperbaiki cara berpikir pada hari berikutnya.
Melihat Rasa yang Perlu Dilepaskan.
Selain cipta, rasa juga perlu diperiksa.
Tanyakan:
“Rasa apa yang masih perlu kulepaskan?”
Mungkin masih ada kemarahan.
Mungkin ada iri.
Mungkin ada kekecewaan.
Mungkin ada rasa tersinggung yang terus dibawa.
Tidak perlu berpura-pura bahwa rasa tersebut tidak ada.
Cukup akui keberadaannya.
Kemudian lihat apakah rasa tersebut masih diperlukan atau justru menjadi beban.
Jika rasa tersebut berkaitan dengan luka lama, seseorang dapat belajar melepaskannya sedikit demi sedikit.
Jika rasa iri muncul karena kebiasaan
membandingkan diri, ia dapat kembali mengarahkan perhatian kepada kehidupannya sendiri.
Dengan demikian, rasa tidak dibiarkan menumpuk tanpa diperhatikan.
Melihat Tindakan yang Perlu Diperbaiki.
Wawas diri juga perlu sampai pada tindakan.
Pertanyaan yang dapat digunakan adalah:
“Tindakan apa yang perlu kubenahi?”
Mungkin ada perkataan yang terlalu keras.
Mungkin ada keputusan yang dibuat secara tergesa-gesa.
Mungkin ada tindakan yang menyusahkan orang lain.
Mungkin ada kesempatan untuk berbuat baik yang justru dilewatkan.
Dengan melihat tindakan secara jujur, manusia dapat memahami bahwa pembeningan tidak cukup hanya dengan mengetahui sesuatu.
Kawruh perlu diwujudkan melalui tindakan.
Jika seseorang mengetahui bahwa kemarahan tidak baik tetapi tetap membiarkan kemarahan menguasai tindakannya, maka pengetahuan tersebut belum sepenuhnya menjadi laku.
Cipta, Rasa, dan Karsa sebagai Bahan Wawas Diri.
Wawas diri dapat dilakukan dengan melihat tiga unsur utama dalam diri: cipta, rasa, dan karsa.
Pertama, lihat cipta.
Apa yang kupikirkan hari ini?
Apakah aku mudah berprasangka?
Apakah aku terlalu cepat mengambil kesimpulan?
Apakah aku mampu membedakan kenyataan dan dugaan?
Kedua, lihat rasa.
Apa yang kurasakan hari ini?
Apakah aku dikuasai kemarahan?
Apakah aku masih menyimpan iri atau dendam?
Apakah aku mampu memahami perasaan orang lain?
Ketiga, lihat karsa.
Apa yang kulakukan hari ini?
Apakah tindakanku sesuai dengan pertimbanganku?
Apakah aku mengikuti keinginan sesaat?
Apakah tindakanku membawa manfaat atau justru merugikan?
Dengan memeriksa ketiganya, seseorang dapat melihat dirinya secara lebih menyeluruh.
Wawas Diri Menjaga Pembeningan Tetap Berjalan.
Tanpa wawas diri, pembeningan dapat berhenti menjadi pengetahuan.
Seseorang dapat mengetahui banyak hal tentang kejernihan cipta, ketulusan rasa, dan keteraturan karsa, tetapi belum tentu menjalankannya.
Wawas diri menjadi pengingat agar pengetahuan selalu kembali kepada kehidupan nyata.
Setiap hari menjadi kesempatan untuk melihat apakah laku benar-benar dilakukan.
Bukan seberapa banyak seseorang mengetahui ajaran, tetapi seberapa jauh pengetahuan tersebut mengubah cara berpikir, merasakan, dan bertindak.
Karena itu, wawas diri menjadi penghubung antara kawruh dan laku.
Kawruh memberikan pemahaman.
Laku mewujudkan pemahaman.
Wawas diri memeriksa perjalanan keduanya.
Wawas Diri Membentuk Kebiasaan Memperbaiki Diri.
Perubahan yang besar sering kali berasal dari perbaikan kecil yang dilakukan terus-menerus.
Hari ini seseorang berhasil menahan satu perkataan.
Besok ia belajar mengendalikan satu dorongan.
Hari berikutnya ia menyadari satu prasangka.
Pada hari lain ia mengakui satu kesalahan.
Jika semua itu dilakukan secara terus-menerus, perubahan perlahan menjadi kebiasaan.
Wawas diri membantu proses tersebut karena setiap hari manusia mempunyai kesempatan untuk melihat kemajuan dan kekurangannya.
Dengan demikian, pembeningan tidak bergantung pada perubahan besar yang terjadi sekaligus.
Pembeningan tumbuh dari kebiasaan memperbaiki diri sedikit demi sedikit.
Wawas Diri Bukan Kesempurnaan.
Tujuan wawas diri bukan menjadikan manusia sempurna.
Kesempurnaan bukan ukuran utama.
Yang lebih penting adalah kesediaan untuk terus melihat dan memperbaiki diri.
Jika hari ini masih terdapat kemarahan, akui.
Jika masih ada iri, kenali.
Jika masih ada keinginan untuk dipuji, sadari.
Jika masih ada tindakan yang keliru, perbaiki.
Jangan menjadikan ketidaksempurnaan sebagai alasan untuk berhenti.
Justru karena manusia masih memiliki kekurangan, wawas diri diperlukan.
Menjadikan Wawas Diri sebagai Kebiasaan.
Wawas diri dapat dilakukan pada akhir hari.
Sediakan beberapa saat dalam keadaan tenang.
Kemudian tanyakan:
Apa yang sudah baik hari ini?
Apa yang masih keruh?
Cipta apa yang perlu diperbaiki?
Rasa apa yang perlu dilepaskan?
Karsa apa yang perlu ditata?
Tindakan apa yang perlu diperbaiki?
Tidak perlu mencari jawaban yang indah.
Jawaban yang jujur jauh lebih berguna.
Jika menemukan kesalahan, tentukan perbaikan yang dapat dilakukan.
Jika menemukan kemajuan, pertahankan.
Jika menemukan kelemahan yang masih berulang, teruskan latihan.
Dengan cara itu, setiap hari menjadi bagian dari perjalanan pembeningan.
Penutup Rangkaian Laku Pembeningan Diri.
Laku Wawas Diri menjadi penutup yang sekaligus membuka kembali perjalanan.
Ia disebut penutup karena merupakan laku kesembilan.
Namun, ia juga menjadi awal untuk mengulangi seluruh proses pada hari berikutnya.
Mengawasi cipta.
Mengenali rasa.
Jujur kepada diri.
Mengendalikan cipta.
Membersihkan rasa.
Menata karsa.
Menimbang dampak bagi orang lain.
Mengurangi keinginan yang tidak perlu.
Kemudian melihat kembali seluruh perjalanan diri.
Demikianlah pembeningan berlangsung.
Bukan sekali jadi.
Bukan sesuatu yang selesai hanya karena telah dipahami.
Melainkan proses yang terus dijalankan selama manusia menjalani kehidupannya.
Pada akhirnya, Laku Wawas Diri Setiap Hari: Meninjau Perjalanan Diri mengajarkan bahwa manusia perlu menyediakan ruang untuk melihat dirinya sendiri dengan jujur.
Bukan untuk menyalahkan diri.
Bukan untuk merasa lebih baik daripada orang lain.
Melainkan untuk mengetahui apa yang masih perlu diperbaiki.
Jika cipta masih keruh, benahi.
Jika rasa masih berat, lepaskan.
Jika karsa masih menyimpang, tata.
Jika tindakan masih keliru, perbaiki.
Dengan demikian, pembeningan tidak berhenti sebagai pengetahuan, tetapi terus hidup sebagai laku.
Dan selama manusia masih mau melihat dirinya dengan jujur, perjalanan menuju kejernihan akan terus berjalan.
FAQ - Laku Mawas Diri.
1. Apa itu Laku Wawas Diri Setiap Hari?
Laku Wawas Diri Setiap Hari adalah latihan untuk meninjau kembali pikiran, perasaan, keinginan, dan tindakan yang telah dijalani agar dapat mengetahui apa yang sudah baik dan apa yang masih perlu diperbaiki.
2. Apakah wawas diri berarti menyalahkan diri sendiri?
Tidak. Wawas diri bertujuan memahami keadaan diri, bukan menghukum atau menyalahkan diri. Kesalahan dilihat sebagai bahan untuk melakukan perbaikan.
3. Mengapa wawas diri perlu dilakukan setiap hari?
Karena keadaan cipta, rasa, dan karsa dapat berubah setiap hari. Pemeriksaan rutin membantu manusia mengetahui perubahan tersebut dan mencegah kebiasaan yang kurang baik terus berkembang.
4. Apa yang perlu diperiksa dalam wawas diri?
Tiga hal utama yang dapat diperiksa adalah cipta, rasa, dan karsa. Selain itu, tindakan dan dampaknya terhadap orang lain juga perlu diperhatikan.
5. Apa pertanyaan yang dapat digunakan saat wawas diri?
Beberapa pertanyaan yang dapat digunakan antara lain: Apa yang sudah baik hari ini? Apa yang masih keruh? Cipta apa yang perlu diperbaiki? Rasa apa yang perlu dilepaskan? Karsa dan tindakan apa yang perlu dibenahi?
6. Apakah wawas diri harus dilakukan dalam waktu lama?
Tidak. Yang paling penting bukan lamanya waktu, tetapi ketulusan dalam melihat diri. Beberapa saat setiap hari dapat menjadi latihan yang bermanfaat jika dilakukan secara teratur.
7. Apa hubungan wawas diri dengan kawruh dan laku?
Kawruh memberikan pemahaman, laku mewujudkan pemahaman dalam kehidupan, sedangkan wawas diri membantu memeriksa apakah pemahaman tersebut benar-benar telah menjadi perilaku.
8. Apakah tujuan wawas diri adalah mencapai kesempurnaan?
Tidak. Tujuannya adalah terus memperbaiki diri. Manusia tidak dituntut menjadi sempurna, tetapi diharapkan memiliki keberanian untuk melihat kekurangan dan memperbaikinya.
9. Mengapa Laku Wawas Diri menjadi laku kesembilan?
Karena setelah berbagai laku pembeningan dilakukan, manusia perlu terus memeriksa perjalanan dirinya. Wawas diri menjaga agar pembeningan tidak berhenti sebagai pengetahuan, tetapi terus dijalankan.
10. Apa inti dari Laku Wawas Diri?
Intinya adalah melihat diri dengan jujur setiap hari, mengetahui apa yang masih perlu diperbaiki, lalu terus menjalankan pembeningan dalam kehidupan nyata.

Komentar
Posting Komentar
Tinggal komentar yang sopan jika anda suka dengan artikel ini, bantu kami menjaga kesehatan websiteblog kawruh sejati dan kawruh kasunyatan ini. Salam sahabat.