LAKU SEDERHANA

laku sederhana

Mengurangi Keinginan yang Tidak Perlu

Laku Sederhana merupakan laku kedelapan dalam rangkaian pembeningan diri. Laku ini mengajak manusia melihat kembali berbagai keinginan yang memenuhi kehidupan dan membedakan mana yang benar-benar diperlukan dengan mana yang sebenarnya tidak perlu.

Menurut Kawruh Nawa Pambening, cipta dan rasa dapat menjadi keruh ketika terlalu banyak keinginan untuk menguasai kehidupan. Keinginan untuk dipuji, dianggap paling benar, memenangkan perdebatan, menjadi lebih kaya daripada orang lain, atau selalu mendapatkan perhatian dapat membuat manusia terus mengejar sesuatu yang tidak pernah benar-benar selesai.

Semakin banyak keinginan yang harus dipenuhi, semakin banyak pula hal yang dipikirkan dan dirasakan.

Karena itu, kesederhanaan bukan sekadar persoalan sedikit atau banyaknya benda yang dimiliki.

Kesederhanaan terutama berkaitan dengan kemampuan menata keinginan.

Manusia tetap dapat menikmati kehidupan. Tetap dapat memiliki sesuatu. Tetap dapat bekerja, berkarya, memperoleh hasil, dan merasakan kesenangan.

Yang perlu dikurangi adalah karep kang ora perlu, yaitu keinginan yang tidak benar-benar diperlukan dan justru membuat cipta semakin penuh serta rasa semakin tidak tenteram.

Apa yang Dimaksud dengan Laku Sederhana?
Laku Sederhana adalah latihan untuk menggunakan sesuatu secara sewajarnya dan mengurangi keinginan yang tidak diperlukan.

Kesederhanaan bukan berarti menolak kehidupan.

Bukan pula berarti seseorang harus hidup dalam kekurangan atau meninggalkan semua kesenangan.

Yang dilatih adalah kemampuan membedakan antara kebutuhan dan keinginan.

Manusia membutuhkan makanan, tempat tinggal, pakaian, kesehatan, hubungan yang baik, dan berbagai hal yang menunjang kehidupannya. Namun, di luar kebutuhan tersebut dapat muncul banyak keinginan tambahan.

Keinginan tersebut tidak selalu buruk. Masalah muncul ketika keinginan tidak lagi dapat ditata.

Seseorang dapat terus ingin dipuji.
Setelah dipuji, ia ingin lebih banyak pujian.
Setelah memiliki sesuatu, ia ingin memiliki lebih banyak.

Setelah memenangkan suatu perdebatan, ia ingin selalu dianggap benar.

Keinginan seperti itu dapat membuat manusia tidak pernah merasa cukup.

Keinginan untuk Dipuji.
Salah satu keinginan yang sering tidak disadari adalah keinginan untuk mendapatkan pujian.

Mendapat penghargaan tentu menyenangkan. Tidak ada yang salah dengan merasa senang ketika hasil usaha dihargai.
Namun, jika setiap tindakan dilakukan hanya agar mendapatkan pujian, ketenangan diri menjadi bergantung kepada penilaian orang lain.

Ketika dipuji, merasa senang.
Ketika tidak dipuji, merasa kecewa.
Ketika orang lain mendapatkan lebih banyak perhatian, muncul rasa iri.

Akhirnya, kehidupan dijalani berdasarkan pandangan orang lain.

Laku Sederhana mengajarkan agar manusia mampu melakukan sesuatu yang baik meskipun tidak selalu mendapatkan pujian.

Nilai suatu tindakan tidak harus ditentukan oleh banyaknya orang yang mengetahui atau memujinya.

Keinginan untuk Selalu Dianggap Benar.
Keinginan untuk selalu dianggap benar juga dapat membuat cipta dan rasa menjadi keruh.

Dalam percakapan atau perdebatan, seseorang mungkin lebih sibuk memenangkan pembicaraan daripada memahami persoalan.

Ia tidak lagi mencari kebenaran, tetapi mencari kemenangan.

Ketika pendapatnya dikritik, ia merasa dirinya diserang.

Ketika orang lain memiliki pandangan berbeda, ia merasa harus segera membantah.

Padahal, tidak setiap perbedaan harus dimenangkan.

Kadang-kadang seseorang dapat
mengatakan, “Aku mungkin belum mengetahui seluruhnya.”

Kalimat tersebut bukan tanda kelemahan.
Justru menunjukkan bahwa seseorang tidak terlalu terikat pada keinginan untuk selalu benar.

Cipta menjadi lebih terbuka ketika tidak dibebani kebutuhan untuk mempertahankan keakuan.

Keinginan untuk Menjadi Lebih dari Orang Lain.
Keinginan untuk memiliki lebih banyak daripada orang lain juga dapat menjadi sumber kegelisahan.

Seseorang mungkin tidak lagi bertanya apakah dirinya sudah cukup, tetapi terus melihat apa yang dimiliki orang lain.

Ketika tetangganya memiliki sesuatu yang baru, ia ingin memiliki yang lebih baik.

Ketika temannya berhasil, ia ingin menunjukkan bahwa dirinya juga mampu.

Ketika orang lain memperoleh penghargaan, ia ingin mendapatkan penghargaan yang lebih besar.

Kehidupan akhirnya berubah menjadi perlombaan tanpa garis akhir.

Laku Sederhana mengajarkan agar manusia tidak menjadikan kehidupan orang lain sebagai ukuran utama bagi kebahagiaannya.

Memiliki lebih banyak bukan selalu berarti hidup lebih baik.

Yang lebih penting adalah apakah sesuatu benar-benar diperlukan dan digunakan dengan baik.

Membedakan Kebutuhan dan Keinginan.
Membedakan kebutuhan dan keinginan merupakan inti dari Laku Sederhana.

Sebelum membeli sesuatu, seseorang dapat bertanya:
“Apakah aku benar-benar membutuhkan ini?”
Sebelum mengejar suatu pencapaian:
“Apakah ini memang penting bagiku?”
Sebelum menginginkan pengakuan:
“Apakah aku tetap akan melakukan ini jika tidak ada yang memujiku?”

Sebelum membandingkan diri dengan orang lain:
“Apakah aku benar-benar kekurangan, atau hanya merasa kurang karena melihat kehidupan orang lain?”

Pertanyaan tersebut membantu manusia memeriksa sumber keinginannya.

Tidak semua keinginan harus ditolak. Yang perlu dilakukan adalah melihat apakah keinginan tersebut memang memiliki manfaat atau hanya menambah beban.

Kesederhanaan Bukan Menolak Kesenangan.
Laku Sederhana tidak mengajarkan manusia untuk menolak seluruh kesenangan hidup.
Menikmati makanan yang baik, menikmati keindahan, memiliki barang yang dibutuhkan, bepergian, berkarya, atau menikmati hasil usaha bukan sesuatu yang harus dianggap salah.

Yang perlu diperhatikan adalah keterikatan yang berlebihan.

Jika kesenangan dapat dinikmati tanpa membuat manusia kehilangan kendali, maka kesenangan tersebut tidak perlu menjadi masalah.

Sebaliknya, jika seseorang mulai merasa harus terus mendapatkan kesenangan tertentu agar dapat merasa tenang, di situlah keinginan perlu diperiksa.

Kesederhanaan berarti menggunakan sesuatu dengan sewajarnya, bukan menolak segala sesuatu yang menyenangkan.

Mengurangi Karep yang Tidak Perlu.
Keinginan yang tidak perlu sering kali tidak terasa sebagai beban pada awalnya.

Satu keinginan tampak kecil.
Kemudian muncul keinginan berikutnya.
Lalu keinginan lain.

Tanpa disadari, cipta dipenuhi berbagai hal yang ingin dicapai, dimiliki, dan dibuktikan.

Rasa pun ikut bergerak.
Ada rasa kurang.
Ada rasa takut kehilangan.
Ada rasa iri.
Ada rasa kecewa.
Ada rasa tidak puas.

Karena itu, mengurangi keinginan yang tidak perlu dapat memberikan ruang yang lebih luas bagi kejernihan.

Ketika tidak terlalu banyak yang harus dikejar, cipta menjadi lebih lapang.

Ketika tidak terlalu banyak yang harus
dimiliki, rasa menjadi lebih ringan.

Kesederhanaan dan Karsa.
Laku Sederhana juga berhubungan erat dengan karsa. Karsa mendorong manusia untuk mewujudkan keinginan.

Jika keinginan terlalu banyak, karsa akan terus diarahkan untuk mengejarnya.

Karena itu, menata karsa tidak cukup hanya dengan mengendalikan tindakan. Manusia juga perlu memeriksa apa yang sebenarnya ingin diwujudkan.

Apakah tindakan ini benar-benar diperlukan?
Apakah aku mengejar sesuatu karena manfaatnya atau karena ingin terlihat lebih tinggi?
Apakah aku melakukan ini karena kebutuhan atau karena takut kalah dari orang lain?

Pertanyaan tersebut membantu karsa menjadi lebih terarah.

Karsa yang tertata tidak sibuk mewujudkan setiap keinginan.

Ia memilih mana yang layak diperjuangkan.

Kesederhanaan Memberikan Ruang bagi
Wening.
Semakin banyak keinginan yang tidak perlu, semakin sempit ruang batin untuk melihat kehidupan dengan jernih.

Pikiran dipenuhi oleh apa yang belum dimiliki.
Perasaan dipenuhi oleh apa yang belum tercapai.

Perhatian terus diarahkan kepada apa yang dimiliki orang lain.

Dalam keadaan seperti itu, manusia sulit
merasakan kecukupan.

Sebaliknya, ketika keinginan yang tidak perlu mulai dikurangi, perhatian dapat kembali kepada hal-hal yang memang penting.

Manusia dapat lebih menghargai apa yang sudah dimiliki.

Ia dapat menikmati kehidupan tanpa terus membandingkan.

Ia dapat bekerja dan berkarya tanpa harus selalu membuktikan dirinya lebih tinggi daripada orang lain.

Di situlah kesederhanaan memberikan ruang bagi weninging cipta dan tentreming rasa.

Kesederhanaan dalam Kehidupan Sehari-hari.
Laku Sederhana dapat diterapkan melalui hal-hal yang sangat dekat dengan kehidupan.

Tidak membeli sesuatu hanya karena orang lain memilikinya.

Tidak memaksakan pendapat hanya agar dianggap benar.

Tidak melakukan kebaikan hanya demi mendapatkan pujian.

Tidak mengejar perhatian secara berlebihan.

Tidak terus membandingkan kehidupan sendiri dengan kehidupan orang lain.

Menggunakan barang sesuai kebutuhan.

Menghargai apa yang sudah dimiliki.

Menikmati kesenangan tanpa menjadi tergantung kepadanya.

Semua itu merupakan latihan sederhana untuk mengurangi karep yang tidak perlu.

Kesederhanaan Bukan Kekurangan
Kesederhanaan sering kali dianggap sebagai tanda bahwa seseorang memiliki sedikit.

Padahal, kesederhanaan lebih berkaitan dengan kemampuan merasa cukup dan menggunakan sesuatu secara tepat.

Seseorang dapat memiliki banyak hal tetapi tetap sederhana jika ia tidak diperbudak oleh kepemilikannya.

Sebaliknya, seseorang dapat memiliki sedikit
tetapi tetap tidak sederhana jika seluruh hidupnya dipenuhi keinginan untuk memiliki lebih banyak.

Karena itu, ukuran kesederhanaan bukan semata-mata jumlah benda yang dimiliki.

Ukuran yang lebih penting adalah seberapa jauh manusia mampu mengendalikan keinginannya.

Hubungan dengan Laku-Laku Sebelumnya.
Laku Sederhana merupakan kelanjutan alami dari laku-laku sebelumnya.

Dengan Laku Wening Cipta, manusia belajar mengawasi pikiran.

Dengan Laku Wening Rasa, manusia belajar mengenali gerak perasaan.

Dengan Laku Jujur kepada Diri, manusia berani melihat keadaan dirinya tanpa pembenaran.

Dengan Laku Mengendalikan Cipta, manusia tidak menuruti setiap pikiran.

Dengan Laku Membersihkan Rasa, manusia belajar melepaskan dendam dan iri.

Dengan Laku Menata Karsa, manusia belajar menata keinginan sebelum diwujudkan menjadi tindakan.

Dengan Laku Tepa Slira, manusia belajar mempertimbangkan keberadaan dan kepentingan orang lain.

Kini, melalui Laku Sederhana, manusia belajar mengurangi keinginan yang tidak perlu agar cipta dan rasa memiliki ruang yang lebih luas untuk menjadi wening.

Kesembilan laku tersebut bukan bagian yang berdiri sendiri. Semuanya saling melengkapi.

Tujuan Laku Sederhana.
Tujuan Laku Sederhana bukan menjadikan manusia kehilangan keinginan.
Manusia tetap boleh memiliki cita-cita.
Tetap boleh bekerja keras.
Tetap boleh menikmati hasil usaha.
Tetap boleh memiliki kesenangan.

Namun, manusia belajar mengetahui batas antara yang diperlukan dan yang tidak perlu.
Ketika keinginan yang tidak perlu semakin berkurang, kehidupan menjadi lebih ringan.

Cipta tidak terlalu sibuk mengejar.

Rasa tidak terlalu mudah gelisah karena perbandingan.

Karsa tidak terus-menerus didorong oleh keinginan yang tidak ada habisnya.

Pada akhirnya, Laku Sederhana: Mengurangi Keinginan yang Tidak Perlu, mengajarkan bahwa ketenangan tidak selalu diperoleh dengan mendapatkan lebih banyak.

Kadang-kadang ketenangan justru muncul ketika manusia mampu mengurangi apa yang tidak perlu.

Semakin sedikit keinginan yang menguasai diri, semakin luas ruang untuk melihat kehidupan dengan jernih.

Semakin mampu merasa cukup, semakin ringan langkah menjalani kehidupan.

Kesederhanaan bukan berarti hidup tanpa kenikmatan.

Kesederhanaan adalah kemampuan menikmati kehidupan tanpa diperbudak oleh keinginan.

FAQ - Laku Sederhana.
1. Apa itu Laku Sederhana?
Laku Sederhana adalah latihan untuk membedakan kebutuhan dan keinginan serta mengurangi keinginan yang sebenarnya tidak diperlukan dalam kehidupan.

2. Apakah Laku Sederhana berarti harus hidup miskin?
Tidak. Kesederhanaan bukan tentang kemiskinan. Kesederhanaan berkaitan dengan kemampuan menggunakan sesuatu secara sewajarnya dan tidak diperbudak oleh keinginan.

3. Apakah menikmati kesenangan hidup bertentangan dengan Laku Sederhana?
Tidak. Kesenangan tetap dapat dinikmati. Yang perlu diperhatikan adalah agar kesenangan tidak berubah menjadi keterikatan dan keinginan yang berlebihan.

4. Mengapa keinginan dapat membuat cipta keruh?
Karena terlalu banyak keinginan membuat pikiran terus mengejar sesuatu yang belum dimiliki, membandingkan diri dengan orang lain, dan memikirkan berbagai hal yang sebenarnya tidak diperlukan.

5. Bagaimana cara membedakan kebutuhan dan keinginan?
Tanyakan kepada diri sendiri apakah sesuatu benar-benar diperlukan atau hanya ingin dimiliki. Pertimbangkan pula manfaat dan akibatnya sebelum mengambil keputusan.

6. Apakah keinginan untuk dipuji perlu dihilangkan?
Tidak harus dihilangkan, tetapi perlu disadari dan ditata. Kebaikan sebaiknya tidak hanya dilakukan karena mengharapkan pujian dari orang lain.

7. Apa hubungan Laku Sederhana dengan karsa?
Karsa merupakan daya yang mendorong manusia untuk mewujudkan keinginan. Dengan mengurangi keinginan yang tidak perlu, karsa dapat diarahkan kepada tindakan yang lebih penting dan bermanfaat.

8. Apa manfaat Laku Sederhana bagi cipta dan rasa?
Ketika keinginan yang tidak perlu berkurang, cipta menjadi lebih lapang dan rasa lebih tenteram karena manusia tidak terus-menerus mengejar, membandingkan, atau merasa kekurangan.

9. Apakah orang yang memiliki banyak harta dapat menjalani Laku Sederhana?
Bisa. Kesederhanaan tidak ditentukan oleh banyak atau sedikitnya harta, tetapi oleh hubungan seseorang dengan apa yang dimiliki. Yang penting adalah tidak diperbudak oleh kepemilikan dan keinginan.

10. Apa tujuan utama Laku Sederhana?
Tujuannya adalah mengurangi keinginan yang tidak perlu agar manusia memiliki ruang yang lebih luas untuk kejernihan cipta, ketenteraman rasa, dan keteraturan karsa.

Komentar