JATI DIRI MENURUT KAWRUH SEJATI

jati diri menurut kawruh sejati

Ketika seseorang ditanya tentang siapa dirinya, jawaban yang muncul biasanya berkaitan dengan nama, asal-usul, pekerjaan, keluarga, pendidikan, kedudukan, atau berbagai identitas yang melekat dalam kehidupannya. Semua itu memang dapat menjelaskan siapa seseorang dalam kehidupan sosial, tetapi apakah semua identitas tersebut benar-benar menunjukkan jati dirinya? Jika seseorang kehilangan pekerjaan, apakah jati dirinya ikut hilang? Jika kedudukannya berubah, hartanya berkurang, penampilannya mengalami perubahan, atau lingkungan kehidupannya berganti, apakah manusia tersebut kemudian menjadi pribadi yang sama sekali berbeda? Pertanyaan semacam ini membawa pembahasan tentang jati diri menuju persoalan yang lebih dalam daripada sekadar identitas yang tampak dari luar.

Dalam Kawruh Sejati, jati diri tidak cukup dipahami sebagai nama, status, peran, ataupun citra yang dibangun seseorang di hadapan orang lain. Mengenal jati diri berarti berusaha melihat diri secara lebih jernih, termasuk memahami bagaimana cipta, rasa, dan karsa bergerak serta bagaimana ketiganya memengaruhi cara manusia memandang kehidupan dan menentukan tindakannya. Dengan demikian, pencarian jati diri bukan terutama usaha untuk menemukan identitas baru, melainkan proses untuk mengenali apa yang selama ini disebut sebagai “aku” dan membedakannya dari berbagai pikiran, perasaan, keinginan, kepentingan, serta peran yang terus berubah sepanjang perjalanan hidup.

Jati Diri Bukan Sekadar Identitas.
Manusia sejak lahir berada dalam berbagai hubungan dan keadaan yang kemudian membentuk identitas dirinya. Ia menjadi anak dari orang tuanya, tumbuh sebagai saudara, menjadi teman bagi orang lain, kemudian mungkin menjadi pasangan, orang tua, pekerja, pemimpin, anggota masyarakat, atau menjalankan berbagai peran lain sesuai perjalanan kehidupannya. Peran-peran tersebut tentu penting karena manusia memang hidup di tengah hubungan dengan sesama, tetapi peran sosial tidak dapat begitu saja disamakan dengan jati diri.

Seseorang dapat kehilangan pekerjaan dan tetap menjadi dirinya sendiri, dapat berpindah tempat tinggal tanpa kehilangan keberadaan dirinya, dapat mengalami perubahan usia dan penampilan tanpa berubah menjadi manusia yang sama sekali berbeda, bahkan dapat mengubah pandangan hidup setelah memperoleh pengalaman baru. Hal ini menunjukkan bahwa berbagai hal yang selama ini digunakan untuk menjelaskan identitas manusia ternyata bersifat berubah-ubah. Karena itu, jika ingin memahami jati diri secara lebih mendalam, manusia perlu melihat sesuatu yang tidak berhenti pada identitas lahiriah.

Persoalannya kemudian menjadi lebih mendasar: apa yang sebenarnya kita sebut sebagai “aku”? Apakah “aku” adalah tubuh yang terus mengalami perubahan, pikiran yang selalu bergerak, perasaan yang datang dan pergi, keinginan yang berganti-ganti, atau seluruh peran yang kita jalankan dalam kehidupan? Pertanyaan tersebut bukan sekadar permainan kata, karena cara manusia menjawabnya akan menentukan bagaimana ia memahami dirinya sendiri.

Manusia Sering Keliru Mengenali Dirinya.
Salah satu persoalan dalam pencarian jati diri adalah kecenderungan manusia untuk menyamakan dirinya dengan sesuatu yang sebenarnya hanya menjadi bagian dari kehidupannya. Ketika memiliki jabatan, seseorang dapat merasa bahwa jabatan tersebut merupakan bagian utama dari dirinya. Ketika memperoleh kekayaan, ia dapat menghubungkan harga dirinya dengan apa yang dimiliki. Ketika mendapatkan penghargaan, ia merasa dirinya berharga, sedangkan ketika mendapat penolakan atau penghinaan, ia merasa dirinya direndahkan.

Keadaan semacam itu menunjukkan bahwa manusia dapat membangun gambaran tentang dirinya berdasarkan sesuatu yang berada di luar dirinya. Akibatnya, ketika sesuatu yang menjadi sandaran tersebut berubah atau hilang, keadaan batinnya ikut terguncang. Orang yang terlalu menggantungkan jati dirinya pada kedudukan akan merasa kehilangan arah ketika kedudukan itu berakhir, sementara orang yang menjadikan pengakuan sebagai ukuran dirinya akan mudah merasa rendah ketika tidak lagi memperoleh penghargaan.

Dalam sudut pandang Kawruh Sejati, keadaan tersebut perlu dilihat dengan lebih jernih. Bukan berarti harta, kedudukan, pekerjaan, keluarga, maupun penghargaan tidak penting, tetapi semua itu perlu ditempatkan sebagai bagian dari kehidupan, bukan sebagai keseluruhan jati diri. Manusia dapat memiliki sesuatu tanpa harus menjadikan sesuatu tersebut sebagai ukuran mutlak tentang siapa dirinya.

Mengenali Cipta, Rasa, dan Karsa.
Pembahasan mengenai jati diri tidak dapat dilepaskan dari cipta, rasa, dan karsa, karena ketiganya merupakan bagian penting dari gerak kehidupan manusia. Cipta berkaitan dengan proses manusia memahami, memikirkan, menilai, dan membentuk pandangan terhadap sesuatu, sedangkan rasa berkaitan dengan pengalaman batin yang muncul ketika manusia berhadapan dengan keadaan tertentu. Adapun karsa berkaitan dengan kehendak atau dorongan yang mengarahkan manusia untuk melakukan sesuatu.

Ketiganya saling berkaitan dan terus bergerak dalam kehidupan. Apa yang dipikirkan dapat memengaruhi rasa, apa yang dirasakan dapat memengaruhi kehendak, kemudian kehendak dapat diwujudkan menjadi tindakan. Karena itu, ketika manusia ingin mengenali dirinya, ia tidak cukup hanya bertanya mengenai identitas lahiriahnya, tetapi perlu memperhatikan bagaimana cipta, rasa, dan karsa bekerja dalam dirinya.

Ketika seseorang marah, misalnya, kemarahan tersebut bukan keseluruhan dirinya, melainkan salah satu keadaan yang sedang berlangsung dalam dirinya. Ketika ia kecewa, kekecewaan tersebut juga bukan seluruh dirinya, melainkan pengalaman batin yang muncul akibat suatu keadaan. Demikian pula ketika muncul rasa takut, iri, bangga, atau keinginan untuk memperoleh sesuatu, semua itu merupakan bagian dari gerak batin yang perlu dikenali.

Kesadaran terhadap hal tersebut menjadi penting karena manusia sering mengatakan “aku marah”, “aku kecewa”, atau “aku takut” seolah-olah keadaan tersebut merupakan keseluruhan dirinya. Padahal, jika manusia mampu mengamati pengalaman tersebut, ia mulai menyadari adanya perbedaan antara dirinya dengan keadaan yang sedang berlangsung di dalam dirinya. Dari sinilah pengenalan diri dapat berkembang menjadi lebih mendalam.

Mengenal Diri Tidak Sama dengan Mengetahui Sifat Diri.
Banyak orang merasa sudah mengenal dirinya karena mengetahui sifat dan kebiasaannya. Ia tahu bahwa dirinya mudah marah, mudah tersinggung, senang dipuji, tidak suka dikritik, atau memiliki keinginan tertentu yang kuat. Pengetahuan tersebut memang berguna, tetapi belum tentu berarti bahwa ia sudah memahami dirinya secara mendalam.

Mengetahui bahwa diri mudah marah berbeda dengan memahami mengapa kemarahan itu muncul dan apa yang sebenarnya disentuh oleh kemarahan tersebut. Mengetahui bahwa diri senang dipuji juga berbeda dengan memahami mengapa penghargaan dari orang lain begitu penting bagi keadaan batin. Demikian pula mengetahui bahwa diri tidak suka dikritik belum berarti memahami mengapa kritik tertentu dapat mengguncang harga diri.

Karena itu, mengenal jati diri membutuhkan keberanian untuk mengamati diri secara jujur. Ketika mendapatkan pujian, seseorang dapat memperhatikan apa yang terjadi dalam dirinya. Ketika mendapatkan kritik, ia dapat melihat bagaimana rasa dan pikirannya bereaksi. Ketika keinginannya tidak terpenuhi, ia dapat mengamati dorongan yang muncul sebelum mengambil tindakan. Berbagai pengalaman tersebut sebenarnya merupakan cermin yang membantu manusia melihat dirinya sendiri.

Dengan cara demikian, kehidupan sehari-hari menjadi ruang untuk mengenali jati diri. Manusia tidak harus selalu mencari pengalaman yang luar biasa untuk memahami dirinya, karena peristiwa sederhana pun dapat menunjukkan bagaimana cipta, rasa, dan karsa bekerja.

Jati Diri Bukan Citra yang Dibangun.
Ada perbedaan mendasar antara jati diri dan citra diri. Citra diri merupakan gambaran yang ingin ditampilkan seseorang kepada orang lain, sedangkan jati diri merupakan sesuatu yang perlu dikenali melalui kejujuran terhadap diri sendiri. Seseorang dapat membangun citra sebagai manusia yang sabar, tetapi ketika menghadapi persoalan kecil ia mudah meledak. Ia dapat berbicara tentang kebijaksanaan, tetapi tidak mampu menerima kritik. Ia dapat menunjukkan dirinya sebagai orang yang memahami kawruh, tetapi perilakunya belum mengalami perubahan yang berarti.

Keadaan tersebut menunjukkan bahwa apa yang dikatakan seseorang tentang dirinya belum tentu sama dengan keadaan dirinya yang sebenarnya. Karena itu, jati diri tidak seharusnya dibangun melalui klaim atau pengakuan, melainkan dikenali melalui keselarasan antara pemahaman, sikap, dan laku.

Semakin seseorang mengenal dirinya, semakin ia tidak membutuhkan banyak pembuktian mengenai siapa dirinya kepada orang lain. Ia tidak perlu terus-menerus membangun citra sebagai manusia paling tahu, paling bijaksana, atau paling benar, karena perhatian utamanya beralih kepada bagaimana dirinya menjalani kehidupan dengan lebih jernih.

Dalam konteks ini, jati diri tidak dibuktikan oleh apa yang dikatakan seseorang tentang dirinya, tetapi tercermin melalui bagaimana ia berpikir, merasakan, mengambil keputusan, dan bertindak dalam kehidupan.

Jati Diri dan Pengendalian Diri.
Pengenalan jati diri mempunyai hubungan yang erat dengan pengendalian diri. Manusia yang tidak mengenali gerak batinnya akan lebih mudah dikendalikan oleh dorongan yang muncul di dalam dirinya, sedangkan manusia yang mulai menyadari bagaimana pikiran, rasa, dan kehendaknya bekerja memiliki kesempatan untuk tidak langsung mengikuti setiap dorongan tersebut.

Ketika kemarahan muncul, misalnya, kesadaran memberikan ruang bagi seseorang untuk melihat kemarahan tersebut sebelum menjadikannya tindakan. Ketika keinginan untuk membalas muncul, ia dapat memahami dorongan tersebut tanpa harus langsung mengikutinya. Ketika rasa takut muncul, ia dapat mengenalinya tanpa membiarkan ketakutan menentukan seluruh keputusan hidupnya.

Karena itu, mengenal jati diri bukan hanya persoalan mengetahui “siapa aku”, tetapi juga memahami bagaimana aku bergerak. Semakin manusia memahami geraknya sendiri, semakin terbuka kemungkinan baginya untuk menata cipta, rasa, dan karsa.

Kawruh Sejati Membawa Manusia pada Pengenalan Diri.
Kawruh Sejati menjadi penting karena pengetahuan tentang kehidupan seharusnya tidak berhenti pada pemahaman yang hanya tersimpan dalam pikiran. Kawruh perlu membawa manusia kepada kemampuan untuk melihat dirinya sendiri dengan lebih jernih, sehingga pengetahuan yang diperoleh tidak hanya menjadi bahan pembicaraan, tetapi menjadi dasar bagi perubahan laku.

Semakin dalam seseorang memahami kawruh, seharusnya semakin besar pula keberaniannya untuk melihat kekurangan dirinya sendiri. Ia tidak menggunakan kawruh untuk merasa lebih tinggi daripada orang lain, tetapi menjadikannya sebagai sarana untuk mengamati cipta, rasa, dan karsanya sendiri.

Jika setelah memahami berbagai ajaran tentang kehidupan seseorang masih mudah dikuasai kemarahan, kesombongan, keinginan untuk dipuji, atau dorongan untuk selalu dianggap benar, maka masih terdapat jarak antara mengetahui kawruh dan menghayati kawruh. Pengetahuan belum sepenuhnya menjadi laku karena belum memberikan perubahan yang nyata dalam cara seseorang menjalani kehidupan.

Dengan demikian, pengenalan jati diri tidak dapat dipisahkan dari proses perubahan diri. Manusia mengenali geraknya, memahami sumber dorongannya, kemudian menata kehidupannya berdasarkan kesadaran tersebut.

Kawruh Kasunyatan sebagai Pengujian dalam Kehidupan.
Jika Kawruh Sejati memberikan penerangan bagi manusia untuk memahami dirinya, maka Kawruh Kasunyatan menjadi ruang bagi manusia untuk menjalani dan menguji pemahaman tersebut dalam kehidupan nyata. Sebab manusia tidak hidup hanya dengan pikiran, melainkan selalu berhadapan dengan berbagai keadaan yang menguji bagaimana pemahamannya benar-benar bekerja.

Ketika menghadapi orang yang tidak disukai, seseorang dapat melihat bagaimana dirinya bereaksi. Ketika memperoleh pujian, ia dapat mengamati apakah dirinya mulai terlena oleh pengakuan. Ketika mendapat kritik, ia dapat melihat apakah rasa tersinggung segera mengambil alih. Ketika mengalami kegagalan, ia dapat melihat apakah dirinya kehilangan harga diri. Ketika memperoleh keberhasilan, ia dapat melihat apakah keberhasilan tersebut membuatnya merasa lebih tinggi daripada orang lain.

Semua pengalaman tersebut dapat menjadi cermin untuk mengenali diri. Dengan demikian, kehidupan bukanlah penghalang dalam pencarian jati diri, melainkan tempat yang sangat nyata untuk menguji sejauh mana manusia telah memahami dirinya.
Kawruh menjadi hidup ketika mempengaruhi laku, dan laku menjadi cermin yang memperlihatkan apakah pemahaman tersebut benar-benar telah masuk ke dalam kehidupan.

Jati Diri Bukan Berarti Menjadi Manusia Sempurna.
Mengenal jati diri juga tidak berarti seseorang harus menjadi manusia yang sempurna dan tidak pernah melakukan kesalahan. Manusia tetap dapat marah, kecewa, takut, keliru, memiliki kelemahan, dan mengalami berbagai keadaan batin yang tidak selalu menyenangkan. Yang penting adalah bagaimana manusia berhubungan dengan semua pengalaman tersebut.

Ketika menyadari adanya kemarahan, ia tidak perlu berpura-pura bahwa dirinya tidak pernah marah, tetapi perlu memahami apa yang menyebabkan kemarahan tersebut dan bagaimana kemarahan itu memengaruhi tindakannya. Ketika menemukan kesombongan dalam dirinya, ia tidak perlu menutupinya dengan citra kerendahan hati, tetapi perlu berani melihatnya agar dapat menata diri.

Kejujuran semacam ini justru merupakan bagian penting dari perjalanan mengenal jati diri. Manusia tidak akan dapat melihat dirinya dengan jernih jika ia terus-menerus menggunakan topeng untuk menutupi keadaan dirinya sendiri.

Dari Mengenal Jati Diri Menuju Perubahan Laku.
Pengenalan terhadap jati diri pada akhirnya harus mempunyai hubungan dengan perubahan kehidupan. Jika seseorang merasa telah memahami dirinya tetapi cara berpikir, cara merasakan, dan cara bertindaknya tidak mengalami perubahan, maka pengenalan tersebut masih berada pada tingkat pemahaman dan belum sepenuhnya menjadi laku.

Jati diri bukan sesuatu yang perlu dipamerkan kepada orang lain, melainkan sesuatu yang semakin dipahami melalui perjalanan hidup. Ketika cipta menjadi lebih jernih, rasa semakin tertata, dan karsa semakin mampu diarahkan, manusia mulai memiliki hubungan yang lebih sehat dengan dirinya sendiri. Ia tidak mudah dikendalikan oleh keadaan luar, tidak terlalu bergantung pada pengakuan, dan tidak mudah kehilangan arah hanya karena perubahan keadaan.

Dengan demikian, mengenal jati diri tidak membuat manusia menjauh dari kehidupan, tetapi justru membuatnya semakin mampu menjalani kehidupan dengan kesadaran. Ia tetap bekerja, berhubungan dengan orang lain, menghadapi persoalan, mengejar tujuan, dan menjalankan berbagai tanggung jawab, tetapi semua itu tidak lagi harus menjadi ukuran mutlak tentang siapa dirinya.
Jati Diri dan Jatining Panguripan

Dalam pemahaman yang lebih dalam, pembicaraan tentang jati diri akhirnya membawa manusia kepada pertanyaan mengenai Jatining Panguripan, yaitu hakikat kehidupan yang menjadi dasar keberadaan manusia. Manusia dapat mengenali tubuhnya, pikirannya, perasaannya, dan kehendaknya, tetapi pertanyaan tentang jati diri mendorong pencarian lebih jauh mengenai apa yang menjadi dasar dari kehidupan itu sendiri.

Pertanyaan tersebut tentu tidak dapat diselesaikan hanya dengan menghafalkan istilah atau menerima jawaban dari orang lain. Ia membutuhkan kesadaran, penghayatan, dan laku, karena persoalan jati diri bukan sekadar persoalan pengetahuan yang berada di luar diri. Manusia sendiri merupakan bagian dari persoalan yang sedang ia cari jawabannya.

Karena itu, semakin dalam pencarian tentang jati diri, semakin penting pula kemampuan untuk membedakan antara apa yang berubah dengan apa yang menjadi dasar kehidupan. Tubuh berubah, pikiran berubah, perasaan berubah, keinginan berubah, peran sosial berubah, bahkan cara manusia memahami dirinya sendiri pun dapat berubah. Dari perubahan tersebut muncul pertanyaan yang lebih mendalam tentang apa yang sebenarnya menjadi dasar dari keberadaan manusia.

Penutup: Siapa yang Selama Ini Kita Sebut “Aku”?
Pada akhirnya, pertanyaan tentang jati diri menurut Kawruh Sejati bukan sekadar pertanyaan mengenai nama, pekerjaan, status, asal-usul, atau karakter seseorang. Semua itu memang merupakan bagian dari kehidupan, tetapi belum tentu menjawab pertanyaan yang lebih dalam mengenai siapa manusia sebenarnya.

Jati diri perlu dikenali melalui keberanian untuk melihat diri sendiri tanpa terlalu melekat pada berbagai label yang diberikan oleh diri sendiri maupun orang lain. Manusia perlu mengamati bagaimana cipta bekerja, bagaimana rasa bergerak, bagaimana karsa mendorong tindakan, serta bagaimana semua itu membentuk perjalanan hidupnya.

Dari sana manusia mulai memahami bahwa mengenal diri tidak sama dengan sekadar mengetahui sifat dan kebiasaan diri.

Mengenal diri berarti melihat bagaimana dirinya dibentuk oleh pikiran, perasaan, keinginan, pengalaman, dan berbagai identitas yang melekat dalam kehidupan, kemudian perlahan memahami mana yang hanya merupakan bagian dari perjalanan hidup dan mana yang menjadi dasar yang lebih dalam.

Mungkin persoalan terbesar manusia bukan karena ia tidak mempunyai jati diri, melainkan karena ia terlalu cepat menganggap sesuatu sebagai dirinya. Ia menganggap jabatan sebagai dirinya, menganggap kekayaan sebagai dirinya, menganggap pendapat sebagai dirinya, menganggap emosi sebagai dirinya, bahkan terkadang menganggap citra yang dibangun di hadapan orang lain sebagai dirinya.

Kawruh Sejati mengajak manusia melihat semua itu dengan lebih jernih. Jati diri tidak perlu diciptakan, tetapi perlu dikenali. Jati diri tidak perlu dipamerkan, tetapi perlu dihayati. Jati diri tidak cukup dibicarakan, tetapi perlu tercermin dalam laku kehidupan.

Pada akhirnya, perjalanan mengenal jati diri adalah perjalanan untuk semakin memahami siapa diri kita di balik segala sesuatu yang berubah. Ketika cipta, rasa, dan karsa mulai tertata, ketika manusia tidak lagi mudah dikuasai oleh dorongan sesaat, dan ketika pengetahuan mulai berubah menjadi laku, maka pencarian jati diri tidak lagi sekadar menjadi pertanyaan di dalam pikiran, tetapi mulai menjadi perjalanan nyata menuju pemahaman yang lebih dalam tentang kehidupan.
Jati diri tidak dibuktikan oleh apa yang dikatakan tentang diri sendiri, tetapi terlihat dari bagaimana seseorang menjalani kehidupannya.
Kawruh Sejati
— Dhimas Purnomo —
FAQ

1. Apa yang dimaksud jati diri menurut Kawruh Sejati?
Jati diri menurut Kawruh Sejati tidak hanya berkaitan dengan nama, status, peran, atau identitas sosial, tetapi berhubungan dengan kemampuan manusia mengenali dirinya secara lebih mendalam melalui kesadaran terhadap cipta, rasa, karsa, serta pemahaman mengenai dasar kehidupan.

2. Apakah jati diri sama dengan kepribadian?
Jati diri dan kepribadian tidak sepenuhnya sama. Kepribadian lebih banyak terlihat melalui karakter, kebiasaan, pola berpikir, dan perilaku, sedangkan jati diri membawa pembahasan lebih dalam mengenai siapa manusia di balik berbagai identitas dan perubahan yang terjadi dalam kehidupannya.

3. Apa hubungan cipta, rasa, dan karsa dengan jati diri?
Cipta, rasa, dan karsa merupakan bagian penting dari gerak kehidupan manusia. Dengan mengenali bagaimana ketiganya bekerja dan saling memengaruhi, seseorang dapat memahami dirinya dengan lebih jernih serta melihat bagaimana pikiran, perasaan, dan kehendak membentuk perilakunya.

4. Mengapa manusia sering sulit mengenali jati dirinya?
Manusia sering menyamakan dirinya dengan status, kepemilikan, pikiran, perasaan, keinginan, maupun berbagai peran yang dijalankannya. Karena semua hal tersebut dapat berubah, manusia mudah kehilangan keseimbangan ketika sesuatu yang dianggap sebagai bagian dari dirinya mengalami perubahan atau hilang.

5. Apakah mengenal jati diri berarti harus menjadi manusia sempurna?
Tidak. Mengenal jati diri justru membutuhkan keberanian untuk melihat diri sebagaimana adanya, termasuk mengenali kelemahan, kesalahan, kemarahan, keinginan, dan berbagai dorongan yang masih perlu ditata dalam kehidupan.

6. Apa hubungan jati diri dengan pengendalian diri?
Pengenalan jati diri membantu manusia memahami apa yang berlangsung dalam cipta, rasa, dan karsanya sehingga ia tidak mudah dikendalikan oleh dorongan sesaat. Karena itu, semakin seseorang mengenali dirinya, semakin besar pula kesempatan untuk menata perilaku dan menentukan tindakan dengan kesadaran.

7. Apa hubungan Kawruh Sejati dan Kawruh Kasunyatan dalam mengenal jati diri?
Kawruh Sejati memberikan penerangan untuk memahami diri, sedangkan Kawruh Kasunyatan menjadi ruang bagi manusia untuk menjalani dan menguji pemahaman tersebut melalui kehidupan nyata. Dengan demikian, pengenalan jati diri tidak berhenti sebagai pengetahuan, tetapi perlu diwujudkan dalam laku.

8. Apakah jati diri dapat ditemukan hanya dengan berpikir?
Berpikir dapat membuka pertanyaan tentang jati diri, tetapi pengenalan yang lebih mendalam membutuhkan kesadaran dan laku. Kehidupan sehari-hari menjadi ruang untuk melihat bagaimana cipta, rasa, dan karsa bekerja serta apakah pemahaman tentang diri benar-benar menghasilkan perubahan dalam perilaku.

Baca juga artikel-artikel pendukung :
KAWRUH SEJATI DAN KAWRUH KASUNYATAN.
KAWRUH SEJATI DAN KESADARAN DIRI.
KAWRUH SEJATI PENUNTUN KEHIDUPAN.
PENGENDALIAN DIRI DALAM KAWRUH SEJATI.


Komentar