PENGENDALIAN DIRI DALAM KAWRUH SEJATI

pengendalian diri dalam kawruh sejati

Pengendalian diri
sering dipahami secara sederhana sebagai kemampuan seseorang untuk menahan amarah, menekan keinginan, menghindari tindakan yang merugikan, atau bersabar ketika menghadapi keadaan yang tidak sesuai dengan kehendaknya. Pemahaman seperti itu tidak sepenuhnya keliru, tetapi masih menyentuh bagian luar dari persoalan.

Dalam Kawruh Sejati, pengendalian diri dapat dipahami lebih dalam. Persoalannya bukan hanya tentang bagaimana seseorang menghentikan suatu tindakan, melainkan bagaimana ia mengenali apa yang sedang bergerak di dalam dirinya sebelum suatu tindakan lahir.

Seseorang dapat menahan kata-kata kasar, tetapi belum tentu terbebas dari kemarahan. Seseorang dapat memilih diam ketika disakiti, tetapi di dalam batinnya masih menyimpan keinginan untuk membalas. Secara lahiriah ia terlihat tenang, tetapi keadaan batinnya mungkin masih dipenuhi gejolak.

Karena itu, pengendalian diri tidak cukup diukur dari apa yang tampak. Yang lebih penting adalah bagaimana manusia memahami dan menata cipta, rasa, dan karsa yang menjadi bagian dari gerak kehidupannya.

Pengendalian Diri Dimulai dari Mengenali Diri.
Kesulitan mengendalikan diri sering muncul karena manusia lebih mudah melihat kesalahan orang lain daripada mengamati apa yang berlangsung di dalam dirinya sendiri.

Ketika seseorang tersinggung, misalnya, ia mungkin langsung mengatakan bahwa orang lain telah membuatnya marah. Ketika keinginannya ditolak, ia merasa orang lain tidak menghargainya. Ketika mendapat perlakuan yang tidak menyenangkan, ia segera mencari alasan untuk membenarkan reaksinya.

Padahal, sebuah peristiwa dari luar tidak secara otomatis menentukan tindakan seseorang.

Ada sesuatu yang berlangsung di dalam diri sebelum reaksi muncul. Ada pikiran yang menafsirkan kejadian, ada rasa yang memberikan tanggapan, kemudian ada kehendak yang mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu.

Di sinilah pentingnya pengenalan terhadap diri.

Kawruh Sejati mengajak manusia tidak berhenti pada pertanyaan, “Siapa yang salah?”, tetapi juga berani melihat pertanyaan yang lebih dekat kepada dirinya sendiri: “Apa yang sedang terjadi dalam diriku ketika menghadapi keadaan tersebut?”

Pertanyaan itu membuka ruang kesadaran.
Manusia mulai melihat bahwa kemarahan mungkin tidak hanya berasal dari perkataan orang lain. Di balik kemarahan bisa terdapat rasa tersinggung, keinginan untuk dihargai, ketakutan kehilangan kedudukan, harapan yang tidak terpenuhi, atau keinginan agar keadaan berjalan sesuai kehendaknya.

Ketika sumber gerak batin mulai terlihat, manusia memperoleh kesempatan untuk tidak langsung diperintah olehnya.

Cipta, Rasa, dan Karsa Menentukan Arah Laku.
Dalam pemahaman Kawruh Sejati, cipta, rasa, dan karsa memiliki hubungan erat dengan kehidupan manusia.

Cipta berkaitan dengan proses memahami, memikirkan, menilai, dan membentuk pandangan terhadap sesuatu. Rasa berkaitan dengan pengalaman batin yang muncul ketika manusia berhadapan dengan keadaan. Sementara karsa berkaitan dengan kehendak atau dorongan untuk melakukan sesuatu.
Ketiganya tidak berdiri sendiri.

Apa yang dipikirkan dapat memengaruhi rasa. Apa yang dirasakan dapat memperkuat suatu kehendak. Kehendak kemudian dapat diwujudkan menjadi tindakan.
Karena itu, suatu tindakan biasanya mempunyai rangkaian proses yang mendahuluinya.

Seseorang tidak tiba-tiba membentak tanpa adanya sesuatu yang terjadi dalam dirinya. Tidak tiba-tiba membenci tanpa adanya penilaian dan rasa tertentu. Tidak pula tiba-tiba melakukan pembalasan tanpa adanya kehendak yang sebelumnya tumbuh di dalam batin.

Maka, jika manusia hanya berusaha mengendalikan tindakan pada tahap paling akhir, akar persoalannya bisa saja belum tersentuh.

Pengendalian diri yang lebih mendalam perlu menyentuh proses yang berlangsung sejak munculnya pikiran, berkembangnya rasa, sampai terbentuknya kehendak.

Di sinilah Kawruh Sejati memberikan arah: manusia perlu mengenali gerak dirinya sendiri sebelum gerak tersebut berubah menjadi tindakan.

Tidak Semua Keinginan Harus Diikuti.
Salah satu persoalan manusia adalah kecenderungan menganggap setiap dorongan yang muncul di dalam diri sebagai sesuatu yang harus segera diwujudkan.

Ketika ingin marah, ia marah.
Ketika ingin membalas, ia membalas.
Ketika ingin memiliki sesuatu, ia berusaha mendapatkannya tanpa mempertimbangkan akibatnya.
Ketika merasa tersinggung, ia merasa berhak melampiaskannya.

Padahal munculnya suatu keinginan tidak berarti keinginan tersebut harus diikuti.
Manusia mempunyai kemampuan untuk mengamati dorongan sebelum mengambil tindakan. Kemampuan inilah yang membuat manusia tidak sepenuhnya menjadi budak dari reaksi sesaat.

Pengendalian diri bukan berarti memusuhi keinginan. Pengendalian diri berarti menyadari bahwa keinginan adalah dorongan, bukan perintah yang wajib dilaksanakan.

Ada jarak antara munculnya dorongan dan lahirnya tindakan. Kesadaran dapat hadir di antara keduanya.

Dalam jarak itulah manusia mempunyai kesempatan untuk memilih.

Menahan Diri Belum Tentu Menguasai Diri.
Perbedaan antara menahan diri dan menguasai diri perlu dipahami dengan jelas.
Menahan diri dapat terjadi ketika seseorang masih dikuasai oleh dorongan tertentu, tetapi sengaja menghentikan tindakannya karena takut akibat, takut hukuman, atau mempertimbangkan kepentingan tertentu.

Sementara penguasaan diri bergerak lebih jauh. Seseorang mulai memahami apa yang terjadi dalam dirinya sehingga dorongan tersebut tidak lagi mempunyai kekuasaan penuh atas tindakannya.

Misalnya seseorang mendapatkan penghinaan.

Ia bisa saja memilih tidak membalas karena mengetahui bahwa pembalasan akan menimbulkan masalah. Namun sepanjang kemarahan masih menguasai batinnya, persoalan tersebut belum sepenuhnya selesai.

Kemungkinan yang lain adalah ia menyadari bahwa penghinaan tersebut telah menyentuh rasa harga dirinya. Ia melihat kemarahannya, memahami dorongan untuk membalas, tetapi tidak menyerahkan keputusan kepada kemarahan itu.

Secara lahiriah kedua orang tersebut mungkin sama-sama tidak membalas.

Namun proses batinnya berbeda.

Yang pertama mungkin hanya menghentikan tindakan. Yang kedua mulai memahami dirinya.

Di sinilah pengendalian diri berkembang menjadi penguasaan diri.

Kawruh Sejati Tidak Berhenti pada Pengetahuan.
Memahami konsep pengendalian diri tidak otomatis membuat seseorang mampu mengendalikan dirinya.

Manusia dapat mengetahui banyak hal mengenai kesabaran, kebijaksanaan, pengendalian emosi, dan kehidupan yang baik. Namun semua pengetahuan itu belum tentu tampak dalam perilakunya ketika menghadapi persoalan nyata.

Justru dalam kehidupan sehari-hari kawruh mendapatkan pengujiannya.

Ketika seseorang berhadapan dengan orang yang tidak disukai, ketika mendapat kritik, ketika dipuji, ketika direndahkan, ketika keinginannya tidak terpenuhi, atau ketika menghadapi keadaan yang tidak sesuai harapan, di situlah terlihat sejauh mana kawruh telah menjadi bagian dari laku.

Pengetahuan yang hanya tersimpan dalam pikiran belum tentu mengubah kehidupan.
Kawruh menjadi bermakna ketika memengaruhi cara manusia melihat, merasakan, memilih, dan bertindak.

Karena itu, pengendalian diri bukan latihan yang hanya diperlukan ketika seseorang sedang menghadapi masalah besar. Setiap peristiwa kehidupan dapat menjadi kesempatan untuk mengenali bagaimana cipta, rasa, dan karsa bekerja.

Pengendalian Diri Bukan Berarti Lemah.
Pengendalian diri juga tidak berarti manusia harus selalu diam, mengalah, atau menerima segala perlakuan.

Seseorang tetap dapat mengatakan tidak.
Ia tetap dapat bersikap tegas.
Ia tetap dapat menolak sesuatu yang dianggap tidak benar.
Ia tetap dapat mengambil keputusan dan melakukan tindakan.

Yang berubah bukan keberaniannya, melainkan sumber tindakannya.

Orang yang tidak mampu mengendalikan diri sering bertindak karena ledakan sesaat. Ia berbicara karena marah, mengambil keputusan karena tersinggung, atau melakukan sesuatu karena dorongan untuk membalas.

Sebaliknya, orang yang mulai memiliki penguasaan diri dapat bertindak dengan tegas tanpa harus diperintah oleh kemarahan.

Ketegasan tidak harus lahir dari kebencian.
Penolakan tidak harus lahir dari permusuhan.
Keberanian tidak harus lahir dari ego.
Tindakan dapat lahir dari cipta yang lebih jernih, rasa yang lebih tertata, dan karsa yang tidak mudah diseret oleh dorongan sesaat.

Dengan demikian, pengendalian diri bukan membuat manusia menjadi pasif. Justru pengendalian diri membantu seseorang bertindak dengan lebih sadar.

Ketika Keadaan Tidak Lagi Menjadi Penguasa.
Salah satu tanda berkembangnya pengendalian diri adalah ketika seseorang mulai memahami bahwa keadaan di luar dirinya tidak harus menentukan seluruh keadaan batinnya.

Pujian tidak membuatnya kehilangan keseimbangan.

Celaan tidak langsung membuatnya terbakar amarah.

Penolakan tidak serta-merta membuatnya merasa tidak berharga.

Keberhasilan tidak membuatnya berlebihan.
Kegagalan tidak langsung membuatnya kehilangan arah.

Bukan berarti ia tidak mempunyai rasa. Bukan berarti ia menjadi manusia yang tidak peduli terhadap keadaan.
Ia tetap merasakan semuanya.
Namun ia tidak lagi menyerahkan seluruh kendali dirinya kepada apa yang terjadi di luar.

Ia mulai mampu melihat peristiwa, mengamati tanggapan batinnya, kemudian menentukan tindakan dengan kesadaran.
Inilah salah satu bentuk kedewasaan dalam pengendalian diri.

Pengendalian Diri sebagai Laku Kehidupan.
Dalam hubungan dengan Kawruh Kasunyatan, pengendalian diri tidak dapat dipisahkan dari laku.

Kawruh tidak hanya berbicara mengenai apa yang benar untuk diketahui, tetapi juga bagaimana manusia menjalani kehidupan berdasarkan pemahaman tersebut.
Karena itu, pengendalian diri tidak seharusnya menjadi teori yang hanya dibicarakan.

Ia harus hadir ketika menghadapi keluarga, pekerjaan, masyarakat, perbedaan pendapat, kekecewaan, keberhasilan, maupun kegagalan.

Setiap keadaan dapat menjadi cermin.
Ketika muncul kemarahan, manusia dapat melihat bagaimana cipta menafsirkan keadaan, bagaimana rasa memberikan reaksi, dan bagaimana karsa mulai mendorong tindakan.

Dengan cara demikian, kehidupan sehari-hari menjadi ruang pembelajaran.

Manusia tidak perlu menunggu keadaan luar biasa untuk berlatih mengenali diri. Peristiwa sederhana pun dapat memperlihatkan seberapa jauh dirinya masih mudah dikendalikan oleh dorongan batin.

Dari Pengendalian Diri Menuju Kebebasan Batin.
Pada tingkat yang lebih dalam, tujuan pengendalian diri bukan sekadar supaya seseorang terlihat baik di hadapan orang lain.
Bukan pula supaya ia mendapat pengakuan sebagai orang sabar atau bijaksana.

Pengendalian diri diperlukan agar manusia tidak terus-menerus menjadi permainan dari dorongan yang tidak dipahaminya sendiri.
Seseorang mungkin merasa dirinya bebas karena dapat melakukan apa pun yang diinginkannya. Namun jika setiap keinginan harus selalu diikuti, kebebasan tersebut justru dapat menjadi bentuk keterikatan.

Ia dikendalikan oleh amarahnya.
Dikendalikan oleh keinginannya.
Dikendalikan oleh rasa takutnya.
Dikendalikan oleh kebutuhan akan pengakuan.
Dikendalikan oleh keinginannya untuk menang.

Dalam keadaan seperti itu, manusia memang melakukan apa yang dikehendakinya, tetapi belum tentu benar-benar bebas.

Kebebasan yang lebih mendalam muncul ketika manusia mampu melihat dorongan tersebut tanpa harus menjadi pengikutnya.

Ia mengetahui bahwa kemarahan muncul, tetapi tidak harus menjadi kemarahan itu.
Ia menyadari keinginan muncul, tetapi tidak harus tunduk kepadanya.
Ia merasakan kekecewaan, tetapi tidak harus membiarkan kekecewaan menentukan seluruh tindakannya.

Di situlah pengendalian diri mempunyai makna yang lebih luas.

Kawruh Sejati dan Perubahan Laku.
Pada akhirnya, Kawruh Sejati bukan sekadar pengetahuan yang membuat seseorang merasa mengetahui lebih banyak daripada sebelumnya.

Nilai kawruh justru terlihat ketika pengetahuan tersebut membawa perubahan dalam cara manusia menjalani kehidupan.
Jika seseorang memahami pengendalian diri tetapi tetap mudah dikuasai amarah, maka masih ada jarak antara mengetahui dan menjalani.

Jika seseorang memahami cipta, rasa, dan karsa tetapi tidak pernah mengamati geraknya sendiri, maka pemahamannya masih berada pada tataran konsep.

Kawruh perlu turun menjadi laku.

Dari pemahaman lahir kesadaran.

Dari kesadaran lahir pilihan.

Dari pilihan lahir tindakan.

Dan dari tindakan yang dilakukan terus-menerus dapat terbentuk perubahan dalam kehidupan.

Karena itu, pengendalian diri bukan hasil dari satu kali usaha. Ia merupakan proses yang terus berjalan seiring dengan kemampuan manusia mengenali dirinya.

Penutup: Jangan Sampai Diri Dikendalikan Diri Sendiri
Pertanyaan paling penting dalam pengendalian diri bukan hanya, “Apakah aku mampu menahan diri?”

Pertanyaan yang lebih dalam adalah:
“Apakah aku sudah memahami apa yang menggerakkan diriku?”

Ketika marah, apakah kita mengetahui apa yang sebenarnya tersentuh di dalam diri?
Ketika kecewa, apakah kita memahami harapan apa yang tidak terpenuhi?
Ketika ingin membalas, apakah kita sadar dorongan apa yang sedang bekerja?
Ketika mendapat pujian, apakah kita tetap mampu melihat diri dengan jernih?

Di sinilah Kawruh Sejati menjadi penting.
Kawruh Sejati mengarahkan manusia untuk mengenali gerak cipta, rasa, dan karsa. Sedangkan Kawruh Kasunyatan menjadi ruang bagi manusia untuk menjalani dan menguji pemahaman tersebut dalam kehidupan nyata.

Pengendalian diri akhirnya bukan sekadar kemampuan berkata, “Aku tidak akan melakukan itu.”

Lebih dalam daripada itu, manusia belajar memahami mengapa dorongan tersebut muncul, dari mana asalnya, dan apakah dorongan itu layak dijadikan dasar tindakan.

Ketika manusia mulai mampu melihat dirinya sendiri dengan jernih, pengendalian diri tidak lagi terasa sebagai pengekangan.

Ia berubah menjadi kesadaran.

Dan ketika kesadaran semakin kuat, manusia tidak mudah diperintah oleh kemarahan, keinginan, ketakutan, kesombongan, maupun dorongan sesaat.

Pada titik itulah pengendalian diri menjadi bagian penting dari perjalanan Kawruh Sejati: bukan sekadar belajar menahan diri, tetapi belajar agar diri tidak mudah dikuasai oleh dirinya sendiri.
“Pengendalian diri diperlukan agar manusia tidak terus-menerus menjadi permainan dari dorongan yang tidak dipahaminya sendiri.”
— KAWRUH SEJATI —
FAQ

1. Apa yang dimaksud pengendalian diri dalam Kawruh Sejati?
Pengendalian diri dalam Kawruh Sejati adalah kemampuan mengenali dan menata gerak cipta, rasa, dan karsa sehingga seseorang tidak mudah dikuasai oleh dorongan sesaat.

2. Apakah pengendalian diri hanya berarti menahan emosi?
Tidak. Menahan emosi hanyalah salah satu bagian. Pengendalian diri yang lebih mendalam mencakup kemampuan memahami sumber dorongan batin sebelum menentukan tindakan.

3. Apa hubungan cipta, rasa, dan karsa dengan pengendalian diri?
Cipta berkaitan dengan cara manusia memahami dan menilai sesuatu, rasa berkaitan dengan tanggapan batin, sedangkan karsa berkaitan dengan dorongan untuk bertindak. Ketiganya saling memengaruhi dan perlu ditata agar tindakan tidak mudah dikuasai dorongan sesaat.

4. Apakah orang yang diam berarti sudah mampu mengendalikan diri?
Belum tentu. Diam secara lahiriah tidak selalu berarti batinnya telah tenang. Seseorang dapat diam tetapi masih menyimpan kemarahan, kebencian, atau keinginan membalas.

5. Apa perbedaan menahan diri dan menguasai diri?
Menahan diri dapat berarti menghentikan tindakan tertentu. Menguasai diri lebih dalam karena seseorang memahami dorongan yang muncul sehingga tidak mudah dikendalikan oleh dorongan tersebut.

6. Mengapa pengendalian diri penting dalam Kawruh Kasunyatan?
Karena kawruh tidak cukup hanya dipahami. Pemahaman perlu diwujudkan dalam laku kehidupan. Pengendalian diri menjadi salah satu bentuk nyata dari proses menata cipta, rasa, dan karsa.

7. Apakah pengendalian diri berarti harus selalu mengalah?
Tidak. Pengendalian diri tidak menghilangkan ketegasan. Seseorang tetap dapat menolak, berbicara tegas, mengambil keputusan, dan bertindak, tetapi tidak semata-mata digerakkan oleh emosi atau dorongan sesaat.

Baca juga artikel-artikel pendukung :
KAWRUH SEJATI DAN KAWRUH KASUNYATAN


Komentar