DARI KAWRUH MENUJU KASUNYATAN

dari kawruh menuju kasunyatan
Dari Kawruh Menuju Kasunyatan: Nawa Prasanti Batin dalam Uttamopadesa

Salah satu persoalan penting dalam kehidupan manusia adalah jarak antara apa yang diketahui dan apa yang dilakukan. Manusia dapat memiliki banyak pengetahuan mengenai kebaikan, ketenteraman, kasih, kesederhanaan, dan keluhuran hidup, tetapi pengetahuan tersebut belum tentu menjadi bagian dari kehidupan nyata.

Seseorang dapat berbicara tentang pentingnya kesabaran, tetapi masih mudah dikuasai kemarahan. Ia dapat menjelaskan tentang kasih kepada sesama, tetapi masih suka merendahkan orang lain. Ia dapat memahami pentingnya kesederhanaan, tetapi masih membutuhkan pengakuan melalui apa yang dimiliki dan ditampilkan.

Keadaan tersebut menunjukkan bahwa mengetahui suatu nilai belum sama dengan menjadikannya kenyataan.

Dalam kerangka Uttamopadesa, persoalan inilah yang membuat hubungan antara Kawruh Sejati, laku, dan kasunyatan menjadi sangat penting.

Nawa Prasanti Batin dapat dipahami sebagai salah satu bentuk petunjuk nyata dari hubungan tersebut. Ia tidak hanya berbicara tentang bagaimana manusia memperoleh ketenteraman, tetapi juga memperlihatkan bagaimana kawruh dapat bergerak dari pengetahuan menuju kehidupan.

Sebuah wewaler merangkumnya dengan sangat jelas:

“Kawruh kudu kawruhan, kudu kasumurupan, kudu dilakoni, lan kudu kasunyatan ing panguripan.”

Kalimat tersebut mengandung perjalanan yang sangat penting.

Kawruh kudu kawruhan.
Tahap pertama adalah kawruhan. Manusia perlu mengetahui apa yang dipelajarinya. Kawruh tidak dapat dijalankan apabila tidak dipahami.

Dalam konteks Nawa Prasanti Batin, seseorang perlu memahami terlebih dahulu apa yang dimaksud dengan ketenteraman. Ia perlu membedakan ketenteraman dengan sekadar kenyamanan.

Kenyamanan dapat bergantung kepada keadaan yang menyenangkan. Ketenteraman yang lebih dalam justru berkaitan dengan kemampuan menjaga keseimbangan diri ketika keadaan berubah.

Pemahaman seperti itu merupakan dasar bagi laku. Namun kawruhan saja belum cukup.

Kawruh kudu kasumurupan.
Tahap kedua adalah kasumurupan. Kawruh mulai tidak lagi hanya berada sebagai pengetahuan yang dipelajari dari luar diri. Ia mulai menjadi bagian dari cara manusia melihat kehidupan.

Seseorang yang benar-benar mulai kasumurupan oleh suatu kawruh akan mengalami perubahan dalam cara memandang keadaan.

Ketika menghadapi persoalan, ia mulai mengingat prinsip yang dipahaminya.

Ketika hendak marah, ia mulai menyadari keadaan cipta dan rasanya.

Ketika hendak melakukan sesuatu, ia mulai mempertimbangkan apakah tindakannya selaras dengan nilai yang diyakininya.

Pada tahap ini kawruh mulai memiliki hubungan dengan diri.

Namun perjalanan belum selesai.

Kawruh kudu dilakoni.
Kawruh kemudian harus dilakoni.
Inilah titik pertemuan antara pengetahuan dan kehidupan.

Nawa Prasanti Batin memberikan sembilan prinsip yang dapat menjadi jalan untuk menguji kawruh tersebut.

Prinsip pertama mengajarkan:

“Aja ngendelake tentreming batin marang kahanan ing jaba; awit sajatining tentrem iku tuwuh saka jroning dhiri.”

Prinsip tersebut baru memiliki makna penuh ketika seseorang benar-benar menggunakannya dalam kehidupan.

Ketika keadaan tidak sesuai harapan, ia belajar tidak menyerahkan seluruh ketenteramannya kepada keadaan luar.

Prinsip kedua:

“Ngupadi Weninging Cipta, Tulusing Rasa, Luhuring Karsa.”

juga harus menjadi laku. Manusia berusaha menjernihkan cipta, menuluskan rasa, dan meluhurkan karsa dalam menghadapi kehidupan sehari-hari.

Prinsip ketiga kemudian menjadi penghubung yang sangat tegas:

“Weninging Cipta, Tulusing Rasa, Luhuring Karsa kedah kasunyatan ing Laku.”

Kawruh tidak lagi cukup dipahami. Ia harus diwujudkan.

Kawruh kudu kasunyatan ing panguripan.
Tahap keempat merupakan puncak perjalanan:
kawruh kudu kasunyatan ing panguripan.

Pada tahap ini kawruh telah menjadi kenyataan yang dapat dilihat melalui kehidupan.

Bukan berarti semua orang harus mengucapkan istilah yang sama atau menjelaskan ajaran dengan cara yang sama. Yang lebih penting adalah apakah nilai yang dipahami benar-benar hidup dalam tindakan.

Kasunyatan tersebut dapat terlihat melalui berbagai hal.

Asih kepada sesama menunjukkan bahwa ketulusan rasa mulai hidup.

Prasaja dalam tindak tanduk menunjukkan bahwa manusia tidak lagi terlalu bergantung pada pengakuan.

Keselarasan dengan tatanan panguripan menunjukkan bahwa kehendak pribadi tidak dijadikan ukuran tunggal.

Tidak mengandalkan nalar kumingsun menunjukkan bahwa pengetahuan tidak digunakan untuk membesarkan diri.

Ngrumangsani wewatesaning panguripan janma menunjukkan bahwa manusia menyadari keterbatasannya.

Mengandalkan Asihing Sang Sumber Panguripan menunjukkan bahwa manusia tidak menempatkan dirinya sebagai pusat dari seluruh kehidupan.

Dengan demikian, sembilan prinsip Nawa Prasanti Batin sebenarnya dapat menjadi cermin laku.

Mengapa kasunyatan penting?
Tanpa kasunyatan, kawruh mudah berubah menjadi wacana. Manusia dapat menghafal banyak istilah, memahami banyak konsep, dan mampu menjelaskan berbagai ajaran dengan sangat baik. Namun semua itu belum menjamin bahwa kehidupannya telah berubah.

Justru kehidupan sehari-hari menjadi tempat paling jujur untuk menguji kawruh.

Bagaimana seseorang bertindak ketika marah?

Bagaimana ia bersikap ketika memperoleh keuntungan?

Bagaimana ia menghadapi orang yang berbeda pandangan?

Bagaimana ia menggunakan kelebihan yang dimilikinya?

Bagaimana ia menerima kegagalan?

Bagaimana ia menghadapi keterbatasan?

Bagaimana ia memperlakukan orang yang tidak dapat memberikan keuntungan kepadanya?

Jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan tersebut lebih banyak berbicara mengenai kenyataan kawruh daripada panjangnya uraian yang dapat disampaikan.

Nawa Prasanti Batin sebagai bukti kehidupan.
Dari sudut pandang ini, Nawa Prasanti Batin memiliki kedudukan penting dalam Uttamopadesa. Ia tidak hanya menambahkan sembilan ajaran mengenai ketenteraman. Ia menunjukkan bagaimana sebuah kawruh dapat dibuktikan melalui kehidupan.

Prinsip pertama mengubah cara manusia bergantung pada keadaan.

Prinsip kedua mengarahkan proses pambening.

Prinsip ketiga menuntut perwujudan dalam laku.

Prinsip keempat sampai kesembilan memberikan tanda-tanda yang dapat digunakan untuk melihat kasunyataning laku.

Karena itu terdapat hubungan yang jelas:
Kawruh → Kasumurupan → Laku → Kasunyatan → Prasanti.

Kawruh memberikan arah.

Kasumurupan membuatnya menjadi bagian dari diri.

Laku mewujudkannya dalam tindakan.

Kasunyatan menunjukkan hasilnya dalam kehidupan.

Prasanti menjadi salah satu buah dari keseluruhan perjalanan tersebut.

Ketenteraman sebagai buah, bukan sekadar tujuan.
Dari sini terlihat bahwa ketenteraman batin tidak semata-mata menjadi tujuan yang harus dikejar. Ia juga merupakan buah dari kehidupan yang semakin selaras.

Ketika manusia tidak lagi terlalu bergantung pada keadaan luar, batinnya lebih kokoh.

Ketika cipta semakin wening, ia tidak mudah dikuasai prasangka.

Ketika rasa semakin tulus, ia tidak terus-menerus menuntut pengakuan.

Ketika karsa semakin luhur, tindakannya lebih terarah.

Ketika ia semakin asih kepada sesama, hubungan sosial menjadi lebih baik.

Ketika ia prasaja, kebutuhan untuk mempertontonkan diri berkurang.

Ketika ia selaras dengan tatanan panguripan, ia tidak mudah memaksakan kehendak.

Ketika ia tidak mengandalkan nalar kumingsun, ia lebih terbuka terhadap pembelajaran.

Ketika ia ngrumangsani wewatesaning panguripan janma, ia semakin rendah hati.

Dan ketika ia mengandalkan Asihing Sang Sumber Panguripan, ia memahami bahwa kehidupannya bukan sesuatu yang berdiri sendiri.

Dari keseluruhan proses itulah prasanti dapat tumbuh.

Kawruh yang hidup.
Pada akhirnya, ukuran sebuah kawruh bukan hanya seberapa banyak yang dapat dijelaskan, tetapi seberapa jauh ia mengubah kehidupan.

Kawruh yang hidup akan terlihat dalam laku.
Laku yang benar-benar berakar akan menjadi kebiasaan.

Kebiasaan yang selaras akan membentuk watak. Watak yang semakin luhur akan memberi pengaruh kepada kehidupan di sekitarnya.

Dengan demikian, perjalanan kawruh tidak berhenti pada pikiran manusia. Ia bergerak menuju rasa, karsa, tindakan, hubungan dengan sesama, dan akhirnya menjadi bagian dari panguripan.

Itulah makna penting Nawa Prasanti Batin dalam Uttamopadesa. Ia menunjukkan bahwa Kawruh Sejati bukan hanya sesuatu yang dapat dibicarakan, tetapi sesuatu yang harus menjadi kasunyatan dalam kehidupan.

Karena itu wewaler:

“Kawruh kudu kawruhan, kudu kasumurupan, kudu dilakoni, lan kudu kasunyatan ing panguripan.”

bukan sekadar kalimat penutup. Ia dapat menjadi pedoman untuk menguji seluruh perjalanan kawruh.

Apabila kawruh baru sampai pada tahap kawruhan, perjalanan masih awal.

Apabila telah kasumurupan, kawruh mulai berakar.

Apabila telah dilakoni, kawruh mulai hidup.
Dan apabila telah kasunyatan ing panguripan, kawruh telah menemukan buktinya dalam kehidupan.

FAQ Nawa Prasanti Batin.
Apa hubungan Nawa Prasanti Batin dengan Kawruh Sejati?
Nawa Prasanti Batin menunjukkan bagaimana Kawruh Sejati dapat diwujudkan menjadi laku dan kasunyatan dalam kehidupan.

Mengapa kawruh tidak cukup hanya diketahui?
Karena pengetahuan belum tentu mengubah perilaku. Kawruh perlu menjadi bagian dari diri dan diwujudkan melalui tindakan.

Apa arti “kawruh kudu kasumurupan”?
Artinya kawruh tidak hanya diketahui, tetapi mulai menjadi bagian dari cara seseorang memandang dan menjalani kehidupan.

Apa yang dimaksud kawruh kudu dilakoni?
Kawruh harus diwujudkan dalam tindakan nyata, bukan berhenti sebagai gagasan atau pembicaraan.

Apa arti kasunyatan ing panguripan?
Artinya nilai dan pemahaman yang diperoleh dari kawruh benar-benar terlihat dalam sikap, kebiasaan, tindakan, dan cara menjalani kehidupan.

Mengapa Nawa Prasanti Batin penting bagi Uttamopadesa?
Karena Nawa Prasanti Batin memperlihatkan sisi nyata dari kawruh: bagaimana ajaran mengenai ketenteraman dapat menjadi laku dan terlihat dalam kehidupan.

Apakah ketenteraman merupakan hasil akhir dari Kawruh Sejati?
Ketenteraman dapat menjadi salah satu buah dari kawruh yang benar-benar dipahami, dijalani, dan diwujudkan dalam kehidupan.

Apa rumus sederhana perjalanan kawruh dalam Nawa Prasanti Batin?
Perjalanannya dapat diringkas sebagai Kawruh → Kasumurupan → Laku → Kasunyatan → Prasanti.  

Komentar