SEJATINING URIP DUDU RASA

sejatining urip dudu rasa

Benarkah Hakikat Kehidupan Ada di Dalam Rasa?

Ada sebuah ungkapan yang bermakna dalam dan filosofis:
“Sejatining urip iku ana ing rasa.”

Kalimat tersebut seolah mengajarkan bahwa hakikat kehidupan berada di dalam rasa. Karena itu, manusia diajak untuk merasakan, menghayati, dan menyelami pengalaman batinnya.

Namun, benarkah sejatining urip iku ana ing rasa?

Dalam pandangan Kawruh Sejati, justru di sinilah kita perlu berhenti sejenak dan bertanya: apakah rasa itu sendiri adalah kehidupan, atau hanya salah satu cara manusia untuk mengalami kehidupan?

Jawabannya penting.

Sebab jika rasa dianggap sebagai hakikat kehidupan, manusia dapat dengan mudah mencampurkan antara pengalaman hidup dengan Jatining Panguripan.

Rasa Bukan Sejatining Urip.
Rasa memang nyata.

Ketika seseorang bahagia, ia merasakan kebahagiaan. Ketika kehilangan, ia merasakan kesedihan. Ketika dicintai, muncul rasa kasih. Ketika dihina, muncul rasa sakit hati.

Tetapi semua rasa tersebut datang dan pergi.
Hari ini seseorang merasa bahagia. Besok mungkin kecewa. Sekarang merasa tenang, beberapa jam kemudian bisa marah. Bahkan dalam satu hari, rasa manusia dapat berubah berkali-kali.

Kalau rasa berubah-ubah, apakah sesuatu yang berubah-ubah itu dapat disebut sebagai sejatining urip?

Di sinilah letak persoalannya.

Rasa adalah pengalaman manusia terhadap kehidupan, bukan hakikat kehidupan itu sendiri.

Maka kalimat:
“Sejatining urip iku ana ing rasa.”
perlu dipertanyakan kembali.

Lebih tepat jika dikatakan:
“Rasa iku salah siji cara manungsa ngalami urip.”

Rasa merupakan salah satu cara manusia mengalami kehidupan dan bukan kehidupan itu sendiri.

Mengapa Rasa Sering Dianggap Sebagai Hakikat Kehidupan?
Kesalahpahaman ini sangat mudah terjadi karena manusia memang mengalami kehidupan melalui dirinya sendiri.

Manusia tidak hanya berpikir tentang sesuatu. Manusia juga merasakannya.
Sebuah peristiwa yang sama dapat menghasilkan rasa yang berbeda pada setiap orang.

Kematian seseorang, misalnya, dapat dirasakan sebagai kehilangan oleh satu orang, tetapi mungkin dipandang sebagai pembebasan oleh orang lain.

Peristiwa yang sama.

Rasa yang berbeda.

Artinya, rasa sangat dipengaruhi oleh cipta, pengalaman, ingatan, pengetahuan, keinginan, dan keadaan batin manusia.

Karena itu, rasa tidak dapat dijadikan ukuran mutlak mengenai hakikat kehidupan.

Apa yang terasa benar belum tentu benar.
Apa yang terasa baik belum tentu baik.
Apa yang terasa menyakitkan belum tentu merupakan sesuatu yang buruk.
Dan apa yang terasa membahagiakan belum tentu membawa manusia kepada kebenaran.

Inilah salah satu pintu masuk menuju Kawruh Sejati.

Cipta, Rasa, dan Karsa Bukan Jatining Panguripan.
Dalam pemahaman Kawruh Kasunyatan, manusia mengenal kehidupan melalui berbagai perangkat batinnya.

Ada cipta.
Ada rasa.
Ada karsa.
Ketiganya memiliki fungsi yang berbeda.

Cipta berhubungan dengan pikiran, pengenalan, penilaian, dan pemahaman.

Rasa berhubungan dengan pengalaman batin dan apa yang dirasakan manusia.

Karsa berhubungan dengan kehendak yang mendorong manusia untuk melakukan sesuatu.

Ketiganya sangat penting dalam kehidupan manusia. Namun, penting bukan berarti merupakan hakikat kehidupan.

Cipta dapat berubah.
Rasa dapat berubah.
Karsa dapat berubah.
Bahkan pandangan manusia tentang dirinya sendiri dapat berubah.

Lalu apa yang sebenarnya sedang mengalami semua perubahan itu?

Pertanyaan inilah yang membawa manusia lebih jauh daripada sekadar mempercayai apa yang dirasakan.

Rasa Bisa Menipu.
Salah satu alasan mengapa sejatining urip dudu rasa adalah karena rasa tidak selalu menunjukkan kasunyatan.

Seseorang bisa merasa dirinya paling benar, padahal sebenarnya keliru.
Seseorang bisa merasa dirinya paling baik, padahal tindakannya menyakiti orang lain.
Seseorang bisa merasa tidak dicintai, padahal banyak orang menyayanginya.
Seseorang bisa merasa gagal, padahal sebenarnya sedang berada dalam proses belajar.

Dengan demikian, rasa adalah sesuatu yang perlu dikenali, bukan sesuatu yang harus selalu dipercaya.

Rasa perlu dipahami.
Bukan diperbudak.
Bukan pula dijadikan penguasa.

Karena ketika manusia selalu mengikuti rasa, ia dapat menjadi budak dari perubahan batinnya sendiri.

Hari ini ingin melakukan sesuatu karena merasa senang.
Besok meninggalkannya karena sudah tidak merasa senang.
Hari ini mencintai.
Besok membenci.
Hari ini yakin.
Besok ragu.

Jika hidup sepenuhnya diserahkan kepada rasa, ke mana manusia akan berjalan?

Lalu Apa Sejatining Urip?
Di sinilah pembahasan Jatining Panguripan menjadi penting.

Jatining Panguripan bukan sekadar rasa yang muncul di dalam diri manusia.

Rasa adalah bagian dari pengalaman kehidupan.

Sedangkan Jatining Panguripan menunjuk kepada hakikat dari adanya kehidupan itu sendiri.

Karena itu, manusia perlu membedakan antara:
mengalami kehidupan dan mengetahui hakikat kehidupan.

Orang dapat mengalami rasa yang sangat dalam tanpa memahami hakikat kehidupan.

Sebaliknya, seseorang yang mulai memahami dirinya justru belajar melihat rasa tanpa kehilangan kejernihan.

Ia tidak menolak rasa.
Tetapi juga tidak diperbudak oleh rasa.
Ia merasakan kemarahan, tetapi tidak harus menjadi marah.
Ia merasakan kesedihan, tetapi tidak harus tenggelam di dalam kesedihan.
Ia merasakan kebahagiaan, tetapi tidak harus melekat kepadanya.

Inilah bentuk pengendalian diri yang lebih dalam.

Kawruh Sejati Tidak Mengajarkan Manusia Mematikan Rasa.
Membantah ungkapan “sejatining urip iku ana ing rasa” bukan berarti menolak rasa.

Justru sebaliknya.

Rasa perlu ditempatkan pada tempatnya.
Rasa adalah bagian penting dari cipta, rasa, dan karsa yang membentuk pengalaman manusia.

Tanpa rasa, manusia mungkin kehilangan kepekaan.

Tetapi jika rasa dijadikan satu-satunya kebenaran, manusia juga dapat kehilangan kejernihan.

Maka Kawruh Sejati bukan mengajarkan:
“Jangan memiliki rasa.”

Melainkan:
“Kenalilah rasa, pahami rasa, tetapi jangan mengira rasa adalah sejatining urip.”

Di sinilah Kawruh Kasunyatan menjadi jalan untuk membersihkan cipta, rasa, dan karsa agar manusia tidak mudah dikendalikan oleh apa yang muncul di dalam dirinya sendiri.

Sejatining Urip Tidak Dicari di Dalam Rasa.
Manusia sering mencari jawaban kehidupan dengan masuk semakin dalam ke dalam perasaannya.

Tetapi semakin dalam ia masuk ke dalam rasa, belum tentu semakin dekat dengan kebenaran.

Sebab rasa tetap merupakan pengalaman.

Hari ini muncul.
Besok berubah.

Yang terasa sangat penting sekarang mungkin tidak lagi penting beberapa tahun kemudian.

Karena itu, pertanyaan yang lebih mendasar bukan:
“Apa yang aku rasakan?”

Tetapi:
“Siapa yang mengalami rasa itu?”

Dan lebih jauh lagi:
“Apa sebenarnya yang membuat kehidupan ini ada?”

Pertanyaan-pertanyaan tersebut membawa manusia keluar dari sekadar pengalaman pribadi menuju pencarian tentang Kasunyatan.

Penutup: Rasa Adalah Jalan, Bukan Tujuan.
Maka, apakah ungkapan “sejatining urip iku ana ing rasa” sepenuhnya salah?

Ungkapan tersebut dapat dipahami sebagai bahasa pengalaman batin. Tetapi jika dimaknai secara harfiah, bahwa hakikat kehidupan berada di dalam rasa, maka pemahaman itu perlu dikoreksi.

Rasa bukan sejatining urip.

Rasa adalah bagian dari pengalaman manusia dalam menjalani kehidupan.

Cipta mengenali.
Rasa mengalami.
Karsa menggerakkan.

Namun ketiganya tidak dengan sendirinya menjelaskan Jatining Panguripan.

Karena itu, jangan berhenti pada rasa.
Rasakan, tetapi jangan diperbudak rasa.
Pahami, tetapi jangan berhenti pada pikiran.
Miliki kehendak, tetapi jangan biarkan kehendak menguasai diri.

Sebab Kawruh Sejati bukan sekadar mengetahui apa yang dirasakan manusia.

Kawruh Sejati adalah perjalanan untuk melihat lebih jernih: mana pengalaman, mana pemahaman, dan mana Kasunyatan.

Dan dari sinilah sebuah kesadaran baru dapat muncul:
“Rasa iku dudu sejatining urip. Rasa mung caraning manungsa ngalami urip.”

“Kalau rasa berubah-ubah, apakah sesuatu yang berubah-ubah itu dapat disebut sebagai sejatining urip?” Rasa adalah pengalaman manusia terhadap kehidupan, bukan hakikat kehidupan itu sendiri.
- kawruh sejati -
FAQ
1. Apa arti “sejatining urip dudu rasa”?
Artinya, hakikat kehidupan tidak dapat disamakan dengan rasa. Rasa merupakan pengalaman manusia ketika menjalani kehidupan.

2. Apakah rasa tidak penting dalam kehidupan?
Penting. Rasa membantu manusia mengalami, mengenali, dan memahami kehidupannya. Namun rasa bukan satu-satunya ukuran kebenaran.

3. Mengapa rasa tidak bisa disebut Jatining Panguripan?
Karena rasa dapat berubah sesuai keadaan, pengalaman, pikiran, dan kondisi batin manusia. Sedangkan Jatining Panguripan menunjuk pada hakikat kehidupan itu sendiri.

4. Apa hubungan cipta, rasa, dan karsa dengan kehidupan?
Cipta, rasa, dan karsa merupakan bagian penting dari pengalaman manusia. Cipta mengenali, rasa mengalami, dan karsa mendorong manusia bertindak.

5. Apakah Kawruh Sejati menolak rasa?
Tidak. Kawruh Sejati tidak menolak rasa, tetapi mengajarkan manusia untuk mengenali dan memahami rasa agar tidak diperbudak olehnya.

6. Apa hubungan sejatining urip dengan Kawruh Kasunyatan?
Kawruh Kasunyatan mengarahkan manusia untuk mengenali kehidupan secara lebih jernih, termasuk memahami cipta, rasa, dan karsa serta membersihkannya dari berbagai kekeliruan.

7. Apa inti dari “sejatining urip dudu rasa”?
Intinya adalah membedakan antara pengalaman terhadap kehidupan dengan hakikat kehidupan. Rasa adalah pengalaman; rasa bukan Jatining Panguripan.

Baca juga artikel tentang :


Komentar